3 Contoh Naskah Drama Singkat Berbagai Tema, Lengkap dengan Strukturnya

Ami Heppy S ยท Kamis, 08 September 2022 - 20:39:00 WIB
3 Contoh Naskah Drama Singkat Berbagai Tema, Lengkap dengan Strukturnya
Contoh Naskah Drama Singkat (Foto: Pexels)

JAKARTA, iNews.id - Inilah contoh naskah drama singkat berbagai tema yang bisa menjadi referensi buat kamu. Naskah drama merupakan sebuah teks berisikan dialog dengan gambaran karakter-karakter tokoh di dalamnya.

Mengutip modul pembelajaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, drama adalah karya fiksi yang dinyatakan dalam bentuk dialog.
Para pemain atau aktor drama harus membawakan cerita sesuai dengan naskah yang ada. Naskah drama juga berbeda dengan naskah lainnya, baik dalam bentuk maupun teknik menulisnya.

Struktur naskah drama dibagi menjadi tiga bagian, yakni epilog, dialog, dan prolog.  Prolog adalah bagian pembuka atau pengantar yang disampaikan oleh narator atau tokoh tersebut. Selanjutnya, dialog adalah percakapan antar tokoh, dan epilog adalah bagian penutup.

Setelah mengetahui struktur naskah drama, selanjutnya kamu dapat menyimak contoh naskah drama berikut ini.

Contoh Naskah Drama Singkat

Dirangkum dari berbagai sumber, inilah beberapa contoh naskah drama singkat.

Contoh 1

Malin Kundang

(Prolog)

Malin Kundang adalah seorang anak yang telah lama merantau meninggalkan tanah kelahirannya. Ia mengembara mengadu nasib demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Ia meninggalkan Mande, ibu kandungnya seorang diri di tanah kelahirannya. Singkat cerita, akhirnya Malin Kundang berhasil menikah dengan seorang putri saudagar kaya raya. Ia pun kembali ke tanah kelahirannya bersama sang putri.

(Dialog)

Malin : "Istriku, inilah tanah kelahiranku dulu." (Sambil menunjuk ke arah daratan dari atas perahu yang bersandar)
Putri : "Sungguh indah sekali tanah kelahiran kau ini, suamiku."
Mande : (Berlari tertatih-tatih) "Malin! Kau kah itu nak?" (Berteriak kegirangan)
Putri : "Siapakah wanita tua itu suamiku?"
Malin : (Menyembunyikan wajah terkejut ketika melihat ibunya berlari ke arah perahu) "Aku tidak tahu, istriku. Mungkin itu hanya pengemis yang ingin meminta sedikit sumbangan dari kita saja. Sudah jangan pedulikan lagi dia."
Mande : "Malin, ini ibumu nak. Sudah lupakah kau pada ibu yang telah mengandung dan membesarkan kau ini Malin?"
Malin : "Wahai wanita tua! Jangan sekali-kali kau berani mengaku sebagai ibuku. Enyahlah kau! Ibuku bukan wanita tua renta sepertimu, dan ibuku sudah lama meninggal. Pergi kau dari sini! Jangan sampai kau mengotori kapalku ini!"
(Berteriak emosi sambil menunjuk ke ibunya)
Mande : (Ia menangis menahan kesedihan) "Ya Tuhan, kenapa pula anakku berubah menjadi seperti ini? Apa salahku ini Tuhan? Jika memang ia bukan anakku, maka maafkanlah ia yang telah menghinaku ini. Namun jika ia benar anakku si Malin Kundang, maka hukumlah dia yang telah durhaka itu." 
(Sambil menengadahkan tangan memohon kepada Tuhan)

(Epilog)

Tiba-tiba terdengar suara gemuruh, petir datang menggelegar. Badai besar tiba-tiba datang dan kapal Malin Kundang terbalik.
Seketika kilat menyambar tubuh Malin dan istrinya. Anehnya, mereka berdua kemudian berubah menjadi batu.

Itulah kekuatan doa seorang ibu. Jangan sampai kita menjadi anak yang durhaka kepada kedua orang tua.

Contoh 2

Kamu Ingin jadi Apa?

(Prolog)

Pada suatu malam, Rissa, Inez, Jessy, dan Siska sedang menginap di rumah Inez. Mereka sedang membicarakan impian masa depannya sebagai para perempuan modern.

(Dialog)

Rissa : Menurut kalian, saat lulus kuliah nanti, sebaiknya bekerja sesuai dengan jurusan kuliah atau tidak?
Inez : Kalau menurutku harus! Karena kita kan sudah memilih jurusan itu sejak awal, tentu saja harus cari pekerjaan yang sesuai jurusan juga supaya ilmunya terpakai.
Jessy : Kalau menurutku yang penting ketemu dengan kerjaan apa saja dulu. Tidak perlu terlalu idealis kalau baru pertama kali kerja.
Rissa : Kalau kamu gimana, Sis?
Siska : Kalau aku sih yang penting gajinya jangan terlalu kecil! (tertawa)
Inez : Kalau kamu sendiri gimana, Ris?
Rissa : Kalau aku pasca lulus nanti nggak mau kerja di perusahaan orang! Aku mau bikin lapangan pekerjaan sendiri! (wajah antusias)
Inez : Bukannya sebaiknya cari pengalaman dulu di tempat kerja baru bisa membuat perusahaan sendiri?
Siska : Iya! Kalau kamu belum ada pengalaman, mau buat perusahaan seperti apa? Kan, tidak ada contohnya.
Jessy : Ah, sudahlah saat ini tidak usah didebatkan secara detail. Kita kan masih SMA! (menengadah ke atas, bersikap santai)
Rissa : (tertawa) Yang penting saat ini kita sudah tahu cita-cita kita apa. Itu yang terpenting!
Inez dan Siska : Siap!

Contoh 3

Sandal Jepit

(Prolog)

Suara adzan terdengar menggema siang hari itu. 
Dua orang pria bernama Kasim dan Rizal berpakaian rapi mengenakan baju koko dan sarung berjalan bersama menuju ke masjid untuk melaksanakan sholat Jumat.
Mereka tampak berjalan sedikit tergesa-gesa sambil sesekali membenarkan sarung yang mereka kenakan.

(Dialog)

Kasim : (Berjalan di depan Rizal) “Ayo cepat sedikit, Zal!
Rizal : “ Iya..iya. Ini juga udah cepet.”
Tiba-tiba Rizal tersandung batu dan sandal jepit yang digunakannya putus.
Rizal : “Aduh!” (hampir terjatuh)
Kasim : “Kenapa Zal?”
Rizal : (Melepas sandalnya) “Yahh…putus. Kamu sih, Sim, nyuruh aku cepet-cepet. Sandalku putus kan jadinya.”
Kasim : “Lah, kok malah nyalahin aku. Udah, kamu bawa aja dulu itu sandalmu. Nanti aja sehabis jumatan kamu beli sandal yang baru. Ini udah mau iqomah, nanti kita telat sholat jumatnya.” 
Rizal : “Kamu nyuruh aku nyeker? Ogah banget.”
Kasim : “Sebentar doang, daripada kita telat sholatnya.”

Selepas sholat Jumat, semua orang mulai keluar dari masjid satu persatu. Kasim menunggu Rizal di depan gerbang masjid. Hingga akhirnya Rizal datang.

Kasim : “Lama amat, Zal. Loh, sandal siapa tuh yang kamu pakai? (melihat sandal yang dipakai Rizal).”
Rizal : “Hehe…aku juga nggak tahu ini sandal siapa. Aku nemu ini di samping sandalku yang putus tadi.”
Kasim : “Itu ya nggak nemu namanya, Zal. Nanti kalau pemiliknya nyariin gimana, coba?”
Rizal : “Kan dia bisa pake sandal yang aku tinggalin. Sudahlah, ayo cepet pulang!”
Kasim : “Parah kamu, Zal. Pokoknya aku nggak ikut-ikutan ya.”
Rizal : “Iya…iya. Bawel kamu. Anggap aja ini berkah dari sholat Jumat.”
Kasim : “Mana ada berkah dari mengambil sandal orang lain. Rizal…Rizal.”

Di sisi lain, terlihat seorang pria paruh baya yang ternyata adalah Pak Ustad tengah celingak-celinguk mencari sesuatu. 
Seorang warga pun menghampiri Pak Ustad.

Editor : Komaruddin Bagja

Halaman : 1 2

Bagikan Artikel:








Lokasi Tidak Terdeteksi

Aktifkan untuk mendapatkan berita di sekitar Anda