3 WNA Jadi Tersangka Bentrok dengan Warga di Morowali, Pengamat: Investor-Pekerja Asal China Terlalu Diistimewakan
"Jadi, persoalan utamanya adalah itu. Dari awal terlalu diistimewakan, dipermudah, seolah-olah, ya bahasanya dirajakanlah oleh negara melalui aparaturnya," ujarnya.
Keistimewaan yang mereka terima kemudian berdampak secara sosiologis.
Menurutnya, para pekerja asing itu menjadi 'besar kepala' hingga bertindak berlebihan kepada pekerja dalam negeri.
"Termasuk di antaranya rasis terhadap pekerja Indonesia dan kemudian timbul bentrokan fisik di antara pekerja di dalam satu kawasan industri, misalnya antara pekerja asing dan pekerja kita," ucapnya.
"Nah, sekarang persoalannya sudah meluas ke masyarakat. Jadi, keistimewaan yang diterima itu menyebabkan katakanlah kesombongan, keangkuhannya bukan hanya dilakukan dalam lingkungan pekerjaan, tapi juga di lingkungan masyarakat gitu ya. Debu yang kemudian mengganggu warga yang tidak diantisipasi, itu kan di antaranya adalah karena merasa masyarakat sekitar areal tambang itu nggak penting. Karena yang penting bagaimana mereka menghasilkan dan kemudian setor kepada negara atau oknum pejabat negara," sambungnya.
Oleh sebab itu, ia meminta pemerintah bergerak cepat merespons aspirasi masyarakat guna menghindari kondisi yang lebih buruk dari sekadar bentrokan.
"Kalau sekarang jadi tersangka, lama-lama akan ada yang terbunuh, karena hal ini," pungkasnya.
Editor: Rizky Agustian