Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Puspadaya: Memutus Rantai Kekerasan Anak di Ruang Digital Perlu Upaya Preventif dan Kuratif
Advertisement . Scroll to see content

68 Anak Terpapar Ideologi Ekstrem, Pengamat Minta Telusuri Latar Belakang Keluarga

Kamis, 08 Januari 2026 - 09:02:00 WIB
68 Anak Terpapar Ideologi Ekstrem, Pengamat Minta Telusuri Latar Belakang Keluarga
Pengamat militer dan intelijen Susaningtyas Kertopati (dok. istimewa)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Sebanyak 68 anak diduga terpapar ideologi ekstrem dan memiliki potensi melakukan tindakan kekerasan. Puluhan anak tersebut tersebar di 18 provinsi di Indonesia.

Anak-anak itu diketahui tergabung dalam True Crime Community (TCC), sebuah kelompok daring yang menyebarkan paham ekstrem seperti Neo-Nazi dan supremasi kulit putih (white supremacy). Polri mengungkapkan, paparan ideologi ekstrem yang dialami para anak tersebut tidak hanya sebatas wacana, tetapi juga disertai penguasaan berbagai jenis senjata berbahaya.

Kondisi tersebut dinilai berpotensi mengancam keselamatan lingkungan sekitar. Temuan ini pun menjadi perhatian serius aparat penegak hukum karena melibatkan kelompok usia anak yang sangat rentan terhadap pengaruh ekstremisme digital.

Menanggapi hal itu, pengamat militer dan intelijen Susaningtyas Kertopati menilai pendampingan saja tidak cukup. Menurutnya, perlu dilakukan penyelidikan mendalam terhadap latar belakang keluarga anak-anak tersebut.

“Pandangan saya 68 orang anak ini bukan saja hanya diberi pendampingan tetapi juga harus ada penyelidikan terhadap profil keluarga mereka. Ini menjadi penting untuk memperoleh data embrio sebab akibat perilaku 68 anak tersebut,” ujarnya, dikutip Kamis (8/1/2026).

Mantan anggota Komisi I DPR tersebut menyebut, anak-anak itu diduga sedang mencari sosok atau perilaku yang bisa dijadikan teladan, sehingga mengabaikan bahaya di balik tindakan yang mereka lakukan. Bahkan, dengan mengadopsi wacana pikir Neo-Nazi, muncul tujuan agar dianggap hebat atau “keren”.

Perempuan yang akrab disapa Nuning ini menambahkan, paham ekstrem dapat berkembang karena adanya lingkungan yang mendukung. Menurutnya, sebuah kreativitas atau perilaku tidak akan berjalan tanpa dukungan lingkungan sekitar.

“Secara empirik di usia mereka kebutuhan dianggap punya pengetahuan lebih dari orang lain atau lebih hebat besar sekali,” ucapnya.

Editor: Reza Fajri

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut