Abdul Mu’ti Sebut Soft Skills Jadi Kunci Generasi Muda Hadapi Perubahan, Ini Alasannya!
DEPOK, iNews.id - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengingatkan pelajar Indonesia agar tidak hanya mengandalkan kemampuan akademik atau hard skills untuk menghadapi perubahan dunia yang semakin cepat.
Menurut Abdul Mu’ti, kemampuan nonteknis atau soft skills justru menjadi bekal penting bagi generasi muda untuk menghadapi persaingan global. Dia menilai forum seperti Asia Youth International Model United Nations (AYIMUN) dapat menjadi ruang bagi pelajar untuk mengembangkan berbagai keterampilan yang dibutuhkan di tengah perubahan zaman.
"Ini merupakan program yang bergengsi, sehingga banyak siswa telah mengenal kualitasnya," kata Abdul Mu'ti saat membuka Depok Chapter di Depok, Jawa Barat, belum lama ini.

"Tema AYIMUN Depok Chapter ‘Securing the Digital Future: Protecting Societies and Empowering the Next Generation’ menjadi pengingat bahwa kami harus mempersiapkan generasi muda agar menjadi pribadi yang optimis dan siap menghadapi perubahan," ujar Abdul Mu’ti.
Dia menegaskan, keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis yang diperoleh melalui pendidikan formal.
Abdul Mu’ti kemudian mengutip sejumlah keterampilan yang dinilai semakin dibutuhkan dalam beberapa tahun ke depan. Di antaranya kemampuan berpikir kritis, negosiasi, pemecahan masalah, beradaptasi, hingga berkolaborasi.
Menurut dia, keterampilan tersebut penting karena generasi muda akan menghadapi lingkungan global yang terus mengalami perubahan.
"World Economic Forum menyebutkan beberapa keterampilan esensial yang akan sangat dibutuhkan dalam lima tahun ke depan, di antaranya kemampuan berpikir kritis, negosiasi, pemecahan masalah, kemampuan beradaptasi, kolaborasi, serta berbagai keterampilan abad ke-21 lainnya," tuturnya.
Abdul Mu’ti pun mendorong para peserta AYIMUN memanfaatkan forum tersebut bukan sekadar untuk mengikuti simulasi diplomasi, tetapi juga mengembangkan kemampuan yang dapat menjadi bekal di masa depan.
"Jadikan ajang ini kesempatan bagi Anda untuk mengembangkan kemampuan dan membangun cita cita untuk membawa nama besar Indonesia di kancah dunia," ujarnya.
Sebagai informasi, AYIMUN Depok Chapter diikuti 315 pelajar dari 118 sekolah dan universitas. Peserta berasal dari jenjang SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi dari sejumlah daerah, mulai dari Jabodetabek, Sukabumi, Sumatera Selatan, Magelang, Yogyakarta, Surakarta, Surabaya hingga Bali.
Konferensi tersebut mengangkat tema 'Securing the Digital Future: Protecting Societies and Empowering the Next Generation'. Para peserta membahas isu pendidikan dan ancaman aktivitas ilegal di ruang digital melalui dua council, yakni UNICEF dan UNODC.
Di tengah pembahasan tersebut, Presiden International Global Network (IGN) Muhammad Fahrizal menilai kemampuan manusia tetap menjadi fondasi penting dalam menciptakan masa depan digital yang aman.
"Kita sering berpikir bahwa mengamankan masa depan digital hanya bergantung pada kata sandi yang lebih kuat, kecerdasan buatan, atau sistem keamanan siber. Padahal, meskipun teknologi tentu menjadi bagian dari solusi, fondasi utama dari masa depan digital yang aman bukanlah teknologinya semata, melainkan manusianya," kata Fahrizal.
Dia menilai kemampuan berpikir kritis menjadi semakin penting ketika misinformasi, perkembangan kecerdasan buatan, dan ancaman siber terus berkembang.
"Tantangan terbesar bukan lagi sekadar memiliki akses terhadap informasi, melainkan mengetahui bagaimana cara mempertanyakannya, melakukan verifikasi, dan menggunakannya secara bertanggung jawab. Karena itulah berpikir kritis menjadi firewall terkuat yang kita miliki," ujarnya.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Depok Chandra Rahmansyah yang hadir mewakili Wali Kota Depok menilai pengalaman mengikuti ajang ini dapat melatih pelajar memahami perbedaan dan membangun kesepakatan.
"Melalui acara ini, adik-adik tidak hanya belajar menjadi delegasi sebuah negara, tapi juga belajar menjadi pimpinan masa depan yang mampu mendengarkan, menghargai perbedaan, membangun konsensus dan menyampaikan gagasan dengan tanggung jawab," ujar Chandra.
Senada, Direktur Pendidikan SIT Al Haraki Susi P Krisnawan mengatakan pendidikan tidak hanya berorientasi pada kompetisi, tetapi juga pembentukan karakter dan kemampuan generasi muda untuk berkontribusi di tingkat global.
"Acara ini bukan sekadar konferensi. Ketika semakin banyak sarana pendidikan yang mengembangkan program seperti ini, kami sesungguhnya tidak hanya mempersiapkan siswa untuk mengikuti kompetisi, kami sedang mempersiapkan generasi yang mampu membangun jembatan, memiliki dialog daripada perpecahan, serta memimpin dengan kecerdasan dan integritas," kata Susi.
Editor: Muhammad Sukardi