Ahli LIPI Sebut Mutasi Virus Corona Lebih Lambat Ketimbang Influenza
JAKARTA, iNews.id - Daya mutasi virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 dinilai lebih lambat dari beberapa virus yang memiliki RNA (asam ribonukleat) sebagai materi genetiknya. Bahkan jika dibandingkan dengan virus influenza.
"Di antara RNA virus, coronavirus sebetulnya cenderung lebih lambat mutasinya dibandingkan dengan influenza virus," kata peneliti dari Pusat Penelitian Biologi LIPI Sugiyono di Jakarta, Rabu (6/5/2020).
Semakin pendek genom, dia memaparkan, berkorelasi dengan kian tingginya kecepatan bermutasi. Sebaliknya, semakin panjang ukuran genom maka semakin rendah kecepatan mutasinya.
Sebagai perbandingan, ukuran genom SARS-CoV-2 isolate Wuhan Hu-1 adalah 29.903 basa sedangkan ukuran genom H1N1 influenza virus adalah kurang dari setengahnya, yaitu sekitar 13.500 basa.
"Harapannya, lebih lambatnya mutasi SARS-CoV-2 ini memang disebut potensial untuk melakukan pengembangan vaksin dengan efektivitas yang lebih tahan lama, paling tidak dibandingkan dengan influenza virus," ujarnya.
Pada umumnya, virus yang memiliki material genetik berupa RNA memiliki kecepatan mutasi (mutation rate) yang tinggi dibandingkan dengan virus dengan material genetik DNA atau dibandingkan dengan organisme lain seperti bakteri dan protozoa. "Secara general mutasi virus memang bagian dari siklus hidupnya," ucapnya.
Sugiyono mengungkapkan, mutasi belum tentu berdampak pada karakteristik virus karena ada mutasi yang tidak selalu menyebabkan virus menjadi lebih infeksius atau lebih tinggi virulensinya. Itu dinamakan "silent mutation", yang berarti mutasi memang terjadi tetapi tidak memiliki efek pada karakteristik virus.
"Biasanya kalau mutasinya signifikan itu baru menimbulkan efek atau berpengaruh terhadap karakteristik virus tersebut," katanya.
Kecepatan mutasi juga menjadi pertimbangan dalam pembuatan vaksin. Bagi virus yang cepat bermutasi, maka vaksin harus ditinjau dalam jangka waktu tertentu seperti vaksin influenza. Apabila efektivitasnya turun, maka vaksin influenza perlu diperbarui agar efektif memberikan proteksi terhadap yang divaksin.
Editor: Djibril Muhammad