Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Waspadai 5 Penyakit yang Mengintai di Akhir Tahun
Advertisement . Scroll to see content

Anak-Anak Rentan Kena DBD, Kemenkes Minta Sekolah Jadi Garda Terdepan!

Minggu, 02 Agustus 2026 - 10:25:00 WIB
Anak-Anak Rentan Kena DBD, Kemenkes Minta Sekolah Jadi Garda Terdepan!
Ilustrasi nyamuk pembawa virus demam berdarah. (Foto: Pexels)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meminta sekolah mengambil peran lebih besar dalam melindungi anak-anak dari risiko Demam Berdarah Dengue (DBD). Edukasi mengenai pencegahan penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes aegypti itu dinilai harus ditanamkan sejak usia dini agar menjadi kebiasaan yang terus dibawa hingga dewasa.

Menurut Direktorat Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI yang diwakili Agus Handito, sekolah memiliki posisi strategis karena menjadi tempat anak-anak menghabiskan sebagian besar waktunya. Karena itu, lingkungan pendidikan dinilai menjadi salah satu kunci dalam membangun budaya hidup bersih dan sehat sekaligus mencegah penyebaran DBD.

"Sekolah memiliki peran strategis dalam membangun kebiasaan hidup bersih dan sehat melalui Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M+, sehingga budaya pencegahan DBD dapat ditanamkan sejak usia dini dan diterapkan secara konsisten, baik di lingkungan sekolah maupun keluarga," ujar Agus dalam acara ASEAN Dengue Day 2026 di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jakarta, belum lama ini.

Ia menjelaskan, pembiasaan sederhana seperti rutin memeriksa lingkungan sekolah, menguras tempat penampungan air, menutup wadah penyimpanan air, mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk, hingga mengajarkan siswa melindungi diri dari gigitan nyamuk dapat menjadi langkah nyata menekan risiko penularan DBD.

Dorongan agar sekolah menjadi garda terdepan bukan tanpa alasan. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, hingga 2025 kelompok usia 5-14 tahun menjadi kelompok dengan angka kematian akibat dengue tertinggi di Indonesia.

Sementara itu, pada 2025 Indonesia mencatat sekitar 161 ribu kasus dengue dengan lebih dari 600 kematian. Hingga pertengahan 2026, jumlah kasus tercatat mencapai sekitar 50 ribu dengan lebih dari 100 kematian.

Meski kelompok usia 15-44 tahun masih mendominasi jumlah kasus dengue, tingginya angka kematian pada anak usia sekolah menjadi perhatian serius pemerintah.

Karena itu, Agus menilai upaya pencegahan tidak bisa hanya mengandalkan fasilitas pelayanan kesehatan ketika seseorang sudah terinfeksi. Edukasi dan perubahan perilaku harus dilakukan sejak dini melalui lingkungan yang paling dekat dengan anak, yakni sekolah dan keluarga.

Lebih lanjut, Agus menegaskan keberhasilan menekan angka kasus maupun kematian akibat dengue membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, dunia pendidikan, tenaga kesehatan, akademisi, organisasi profesi, hingga masyarakat.

"Keberhasilan penanggulangan dengue tidak dapat dilakukan oleh sektor kesehatan saja. Dibutuhkan keterlibatan aktif pemerintah daerah, dunia pendidikan, sektor komunikasi publik, organisasi profesi, akademisi, masyarakat sipil, dan seluruh mitra pembangunan," ujarnya. 

"Pendekatan kolaboratif berbasis bukti harus menjadi landasan dalam setiap implementasi program menuju target Indonesia Zero Kematian Akibat Dengue pada tahun 2030," tambahnya.

Menurutnya, sekolah bukan hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang untuk membentuk kebiasaan hidup sehat yang dapat dibawa anak hingga ke lingkungan keluarga.

Ketika siswa terbiasa menjalankan Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M+ di sekolah, kebiasaan tersebut diharapkan ikut diterapkan di rumah. Dengan begitu, upaya pencegahan DBD tidak berhenti di lingkungan pendidikan, tetapi meluas ke masyarakat.

Selain sekolah, Kemenkes juga mengingatkan pentingnya keterlibatan orang tua dalam melindungi anak dari DBD. 

Orang tua diharapkan membiasakan anak menjaga kebersihan lingkungan, menghilangkan genangan air yang berpotensi menjadi sarang nyamuk, serta memastikan anak terlindungi dari gigitan nyamuk saat beraktivitas.

Editor: Muhammad Sukardi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut