Anak Krakatau Meletus, Otoritas Pelabuhan Keluarkan Edaran Kewaspadaan

Felldy Utama ยท Senin, 25 Juni 2018 - 23:52 WIB
Anak Krakatau Meletus, Otoritas Pelabuhan Keluarkan Edaran Kewaspadaan

Gunung Anak Krakatau meletus pada Senin (25/6/2018). (Foto: Ist).

MERAK, iNews.id – Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kelas 1 Banten mengeluarkan peringatan menyusul erupsi Gunung Anak Krakatau, Senin (25/6/2018). Para nakhoda diminta meningkatkan kewaspadaan dengan terus memantau informasi terkini terkait erupsi tersebut.

Peringatan kewaspadaan tertuang dalam Surat Edaran (SE) Nomor UM.0033/17/12/KSOP.Btn-18. ”Diingatkan kepada para nakhoda kapal yang akan atau sedang berlayar di Selat Sunda untuk meningkatkan kewaspadaan sehubungan dengan erupsi Gunung Anak Krakatau,” bunyi pernyataan surat edaran yang ditandatangani Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kelas 1 Banten Yefri Meidison, Senin (25/6/2018).

Kantor Kesyahbandaran juga meminta para nakhoda untuk memantau berita cuaca dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), laporan terkini mengenai erupsi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM), PVMBG dan pos pengamatan gunung berapi.

”Agar para nakhoda memastikan kondisi permesinan, kemudi, peralatan navigasi, dan kelengkapan alat keselamatan kapal berfungsi dengan baik,” kata Yefri.

Gunung Anak Krakatau dua kali meletus pada Senin (25/6/2018). Berdasarkan data PVMBG, erupsi pertama terjadi pada pukul 07.14 WIB disusul yang kedua sekitar pukul 14.30 WIB.

Tinggi kolom abu letusan Gunung Anak Krakatau teramati lebih dari 1 kilometer dari puncak atau lebih dari 1.305 meter dari atas permukaan laut. Kolom abu berwarna hitam dengan intensitas tebal condong ke arah utara.

Kepala Subbidang Mitigasi Gunungapi Wilayah Timur PVMBG Badan Geologi Devy Kamil Syahbana menuturkan, aktivitas vulkanik Anak Krakatau telah terpantau sejak Senin 18 Juni 2018. Saat itu gunung api tersebut mengeluarkan embusan-embusan abu vulkanik.

Aktivitas tersebut terus dipantau oleh PVMBG dari pos pengamatan Kalianda, Lampung dan Pasauran, Banten. Pada Kamis (21/6/2018), Anak Krakatau menyemburkan abu vulkanik dengan ketinggian 100-200 meter dari puncaknya atau 400-600 meter di atas permukaan laut.

Dia menjelaskan, karena energi erupsi masih kecil, aktivitas vulkanik itu tak mengganggu pelayaran kapal penyeberangan Bakauheni-Merak dan penerbangan pesawat udara. ”Sebab, getaran yang ditimbulkan erupsi sangat kecil dan hanya dirasakan di sekitar gunung atau dalam radius paling dekat 1 kilometer,” kata dia.

Devy menuturkan, PVMBG juga memantau erupsi Gunung Anak Krakatau dari citra satelit. Dari pengamatan satelit, abu vulkanik yang disemburkan Gunung Anak Krakatau tidak terlihat, artinya sangat tipis sehingga tidak mengganggu penerbangan pesawat.

Ini berbeda dengan letusan Gunung Merapi, Agung, dan Lokon yang terpantau jelas melalui citra satelit. Meski begitu, PVMBG merekomendasikan masyarakat dan wisatawan tidak boleh mendekat gunung tersebut dalam radius 1 km.


Editor : Zen Teguh