Belajar dari Flu Spanyol 1918, Ini Pentingnya Literasi dalam Menghadapi Covid-19

Riezky Maulana ยท Minggu, 02 Agustus 2020 - 09:09 WIB
Belajar dari Flu Spanyol 1918, Ini Pentingnya Literasi dalam Menghadapi Covid-19

Sejarawan Universitas Indonesia (UI), Dr Tri Wahyuning M Irsyam. (Foto: Istimewa)

JAKARTA, iNews.id – Pandemi Covid-19 adalah bencana global. Sejarawan Universitas Indonesia (UI), Dr Tri Wahyuning M Irsyam, menilai wabah yang sedang melanda Indonesia dan sebagian besar negara di dunia itu tak jauh berbeda dengan flu spanyol pada 1918 silam.

Dia menuturkan, Pemerintah Hindia Belanda atau Indonesia kala itu juga memberikan imbauan kepada masyarakat agar patuh terhadap protokol kesehatan, meliputi penggunaan masker, tinggal di rumah, dan menjaga kebersihan. Semua imbauan itu layaknya anjuran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk penanganan pandemi Covid-19 sekarang.

Dalam menyampaikan imbauan itu, kata dia, Pemerintah Hindia Belanda melakukannya melalui berbagai upaya seperti berkampanye dengan mobil kesehatan. Menurut Tri, hal tersebut lebih efektif dilakukan mengingat masih banyak keterbatasan pada saat itu.

“Secara rutin itu, berkeliling kota dan dia seolah-olah mengingatkan, bahwa, apa ini adalah penyakit yang sifatnya mematikan, jadi lebih baik kalau tidak perlu tinggal di rumah, tetap memakai masker, karena itu, dan juga terjagalah kebersihan. Itu yang disampaikan terus dan terus dan terus,” ungkap Tri di Media Center Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19, Jakarta, akhir pekan ini.

Selain melalui kampanye tersebut, Pemerintah Hindia Belanda juga menerbitkan buku literasi berjudul “Lelara Influenza” (Penyakit Influenza), yang kemudian dialihbahasakan ke dalam cerita pewayangan oleh campur tangan dalang.

Sementara, sejarawan publik Kresno Brahmantyo mengatakan, buku “Lelara Influenza” cukup populer, meski pada saat itu masyarakat belum banyak yang dapat membaca. “Ada data yang menunjukkan bahwa tingkat peminjaman buku itu pada tahun 1920 sampai 1923 itu cukup signifikan. Tinggi, 3.000,” ujarnya.

Dalam buku terbitan Balai Pustaka itu dijelaskan tentang bagaimana influenza menurut gejala dan penanganannya. Beberapa kalimatnya juga menekankan tentang imbauan agar manusia tidak bertindak ceroboh.

“Berhati-hatilah jangan sampai bertindak ceroboh yang bisa mengakibatkan munculnya debu. Orang yang terkena panas dan batuk tidak boleh keluar rumah. Harus tidur atau istirahat saja. Badannya diselimuti sampai rapat, kepalanya dikompres, tidak boleh mandi,” jelas Kresno.

Dalam hal ini, pemahaman serta literasi masyarakat akan bahaya pandemi sangat penting dan diutamakan. Sebab, hal itu akan mempengaruhi adanya perubahan perilaku masyarakat sehingga upaya penanganan akan lebih mudah dilakukan.

Editor : Ahmad Islamy Jamil

Halaman : 1 2 3 Tampilkan Semua