BI Beri Sinyal Pangkas Suku Bunga demi Jaga Inflasi dan Rupiah
JAKARTA, iNews.id - Bank Indonesia (BI) memberikan sinyal kuat untuk memangkas suku bunga acuan (BI-Rate) di tahun ini. Hal itu dilakukan dengan mempertimbangkan dinamika ekonomi global dan domestik.
Menurut Gubernur BI Perry Warjiyo ada beberapa alasan utama yang mendasari potensi penurunan suku bunga lebih lanjut.
"Tadi sudah saya sampaikan, ada ruang untuk penurunan suku bunga lebih lanjut. Alasannya apa? Inflasinya rendah," kata Perry dalam konferensi pers hasil rapat KSSK, dikutip Selasa (29/7/2025).
Perry memproyeksikan inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) akhir tahun ini akan berada di 2,5 persen, dengan inflasi inti 2,4 persen, dan prakiraan inflasi yang juga rendah untuk tahun depan.
Alasan kedua adalah kebutuhan untuk membalikkan ekspektasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
"Dan yang kedua, perlu sama-sama membalikkan ekspektasi, mendorong pertumbuhan. Seperti itu," tuturnya.
Faktor ketiga yang menjadi pertimbangan adalah stabilitas nilai tukar rupiah. Meskipun begitu, Perry belum dapat memastikan kapan penurunan suku bunga tersebut akan terjadi.
Ia juga mengindikasikan bahwa keputusan akan sangat bergantung pada perkembangan kondisi ekonomi ke depan.
"Kapan turun? Tergantung dinamika global dan nasional. Arahnya sudah jelas begitu ya," tutupnya.
Proyeksi BI konsisten dengan arah bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran BI yang terus diperkuat untuk menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Kebijakan moneter BI diarahkan pada keseimbangan untuk menjaga stabilitas serta turut mendorong pertumbuhan ekonomi (pro-stability and growth). Sementara itu, kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran tetap diarahkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan (pro-growth).
Sebelumnya, BI telah secara konsisten menurunkan BI-Rate pada bulan Mei dan Juli 2025 masing-masing sebesar 25 basis poin (bps), menjadi 5,50 persen pada Mei 2025 dan 5,25 persen pada Juli 2025.
Keputusan ini didasari oleh semakin rendahnya prakiraan inflasi tahun 2025 dan 2026 yang berada dalam sasaran 2,5 persen ± 1 persen, serta terjaganya stabilitas nilai tukar Rupiah sesuai fundamentalnya, dan perlunya terus mendorong pertumbuhan ekonomi.
Editor: Puti Aini Yasmin