Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Pengumuman Suku Bunga BI bakal Lebih Cepat Hari Ini, Ada Apa?
Advertisement . Scroll to see content

BI Diproyeksi Kembali Tahan Suku Bunga Acuan di 5,75 Persen, Ini Alasannya

Rabu, 21 Oktober 2026 - 11:01:00 WIB
BI Diproyeksi Kembali Tahan Suku Bunga Acuan di 5,75 Persen, Ini Alasannya
LPEM FEB UI memproyeksi Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga acuan pada level 5,75 persen dalam RDG periode 20-21 Oktober 2026. (Foto: Ilustrasi/Ist)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) memproyeksi Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) pada level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode 20–21 Oktober 2026.

Ekonom LPEM FEB UI, Teuku Riefky menuturkan, di tengah tekanan terhadap mata uang Garuda serta risiko arus modal keluar (capital outflow), bank sentral diproyeksikan akan mengutamakan langkah stabilisasi rupiah ketimbang mengerek tingkat suku bunga.

"Kami memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan Suku Bunga BI di level 5,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur Oktober 2026, sambil tetap bersiap untuk merespons jika tekanan terhadap Rupiah semakin meningkat," kata Riefky dalam keterangannya, Rabu (21/10/2026).

Riefky menilai, BI berada dalam situasi dilematis akibat kombinasi tekanan eksternal dan pergerakan inflasi domestik. Di satu sisi, pengetatan kebijakan moneter lanjutan dapat membantu menahan depresiasi rupiah.

Namun di sisi lain, menaikkan suku bunga berisiko menekan daya beli serta permintaan masyarakat di dalam negeri.

Berdasarkan catatan LPEM FEB UI, inflasi domestik merangkak naik menjadi 3,28 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada September 2026, mendekati batas atas target BI sebesar 3,5 persen.

Lonjakan harga ini utamanya dipicu oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang berada di level 4,37 persen, serta sektor transportasi.

"Bagi Indonesia, pelemahan Rupiah yang berkelanjutan dapat meningkatkan biaya barang impor dan input produksi di dalam negeri sehingga berpotensi menambah tekanan inflasi," tuturnya.

Tekanan atas nilai tukar rupiah juga diperberat oleh ketidakpastian arah kebijakan bank sentral AS (The Fed) serta menyempitnya selisih imbal hasil (yield spread) antara Surat Berharga Negara (SBN) dan US Treasury, yang mengikis tingkat daya tarik aset domestik bagi investor global.

Rupiah tercatat terdepresiasi 8,3 persen sejak awal tahun hingga pertengahan Oktober 2026. Pada 14 Oktober 2026, nilai tukar berada di posisi Rp17.895 per dolar AS, melemah 1,22 persen dari level Rp17.680 per dolar AS pada 15 September 2026.

Dari sisi aliran modal portofolio, pasar keuangan domestik membukukan arus keluar bersih (net outflow) sebesar 50 juta dolar AS sepanjang pertengahan September hingga pertengahan Oktober 2026.

Meski pasar SBN mencatatkan arus masuk (inflow) sebesar 690 juta dolar AS, pasar saham justru mengalami pelepasan modal (outflow) mencapai 730 juta dolar AS.

Dinamika pasar saham ini kian tertekan pasca-usulan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang mengkaji potensi penyesuaian status pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market, dengan tenggat konsultasi hingga 30 April 2027 dan keputusan final pada 30 Juni 2027.

"Tekanan-tekanan yang saling bertentangan ini menuntut sikap moneter yang hati-hati, di mana Bank Indonesia perlu mempertimbangkan risiko depresiasi Rupiah lebih lanjut dan kenaikan inflasi terhadap kebutuhan untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi," tuturnya.

Editor: Aditya Pratama

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut