Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Gempa Hari Ini Magnitudo 4,7 Guncang Aceh Tamiang, Getaran Dirasakan di Gayo Lues
Advertisement . Scroll to see content

BMKG: Suasana Terik Dipengaruhi Kombinasi Kurang Tutupan Awan dan Suhu Udara Tinggi

Kamis, 23 April 2020 - 09:52:00 WIB
BMKG: Suasana Terik Dipengaruhi Kombinasi Kurang Tutupan Awan dan Suhu Udara Tinggi
Ilustrasi, prakiraan cuaca. (Foto: Sindo Media).
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Suasana terik umumnya disebabkan oleh suhu udara yang tinggi dan disertai oleh kelembapan udara rendah. Terutama terjadi pada kondisi langit cerah dan kurangnya awan, sehingga pancaran sinar matahari langsung lebih banyak diteruskan ke permukaan bumi.

Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi dan Klimatologi Geofisika (BMKG) Herizal mengatakan, berkurangnya tutupan awan terutama di wilayah Indonesia bagian selatan pada bulan ini disebabkan wilayah ini tengah berada pada masa transisi dari musim hujan menuju musim kemarau.

"Sebagaimana diprediksikan BMKG sebelumnya, seiring dengan pergerakan semu matahari dari posisi di atas katulistiwa menuju belahan bumi utara. Transisi musim itu ditandai oleh mulai berhembusnya angin timuran dari Benua Australia (monsun Australia) terutama di wilayah bagian selatan Indonesia," ujar Herizal di Jakarta, Rabu (22/4/2020).

Dia menuturkan, angin mosun Australia bersifat kering kurang membawa uap air sehingga menghambat pertumbuhan awan. Kombinasi antara kurangnya tutupan awan serta suhu udara yang tinggi dan cenderung berkurang kelembapannya tersebut menyebabkan suasana terik yang dirasakan masyarakat.

"Sesuai prediksi BMKG sebelumnya, Maret hingga April menunjukkan suhu terus menghangat, hampir di sebagian besar tempat di Indonesia. Pemantauan oleh BMKG pada April ini teridentifikasi banyak daerah mengalami suhu maksimum 34° hingga 36°C, bahkan yang tertinggi tercatat mencapai 37,3°C pada 10 April 2020 di Karangkates, Malang," ucapnya.

Secara klimatologis, kata dia April, Mei hingga Juni tercatat sebagai bulan-dengan suhu maksimum di Jakarta, selain Oktober-Nopvember. Pola tersebut dinilai mirip dengan pola suhu maksimum di Surabaya, sementara di Semarang dan Yogjakarta, pola suhu maksimum akan terus naik secara bertahap pada April dan mencapai puncaknya September – Oktober.

Selain itu analisis perubahan iklim menggunakan data yang panjang sejak 1866, diketahui tren suhu maksimum di Jakarta meningkat signifikan sebesar 2.12°C per 100 tahun.

Tren suhu udara yang terus meningkat itu tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di banyak tempat di dunia yang dikenal sebagai fenomena pemanasan global.

"Namun fenomena suhu udara tinggi yang terjadi saat ini lebih dikontrol oleh pengaruh posisi gerak semu matahari dan mulai bertiupnya angin monsun kering dari benua Autralia yang berdampak pada kurangnya tutupan awan di atas wilayah Indonesia, sehingga sinar matahari langsung mencapai permukaan bumi tanpa adanya penghalang awan," ucapnya.

Editor: Kurnia Illahi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut