Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : El Nino Capai Level Sangat Kuat, BMKG Ungkap Musim Hujan di RI Mundur
Advertisement . Scroll to see content

BMKG Ungkap El Nino Masih Sangat Kuat, Mayoritas Wilayah Indonesia Minim Hujan

Jumat, 09 Oktober 2026 - 08:44:00 WIB
BMKG Ungkap El Nino Masih Sangat Kuat, Mayoritas Wilayah Indonesia Minim Hujan
Ilustrasi kemarau. (Foto: AI)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Sebagian besar wilayah Indonesia masih didominasi kondisi kering pada akhir September 2026. Meski demikian, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah akibat dinamika atmosfer yang memengaruhi pembentukan awan hujan.

“Kondisi ini senada dengan hasil pemantauan curah hujan pada Dasarian III September, dimana sebanyak 70,59% wilayah Indonesia mengalami hujan kategori rendah, 27,48% kategori menengah, dan hanya 1,93% yang mengalami curah hujan kategori tinggi,” tulis BMKG dikutip dari laman resminya, Jumat (9/10/2026).

BMKG mengungkapkan kondisi tersebut sejalan dengan fenomena iklim global, yakni Indian Ocean Dipole (IOD) positif dengan indeks rata-rata bulanan September sebesar +0,72. Sementara itu, anomali suhu muka laut di wilayah Niño 3.4 pada periode Juli-Agustus-September (JAS) mencapai +2,70. Angka tersebut mengindikasikan fenomena El Niño dengan intensitas sangat kuat masih berlangsung.

“Kondisi tersebut turut memberikan pengaruh terhadap berkurangnya pembentukan awan hujan di sebagian wilayah Indonesia,” ungkap BMKG.

Di tengah dominasi kondisi kering, potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih perlu diwaspadai. Berdasarkan pemantauan pada 7 Oktober 2026, sebanyak 531 titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi terdeteksi di wilayah Papua dan Maluku, 364 titik di Kalimantan, serta 340 titik di Sumatera.

Selain itu, hasil pengamatan citra satelit Himawari menunjukkan adanya sebaran asap di sejumlah wilayah, meliputi sebagian besar Sumatera dan Kalimantan, serta beberapa wilayah Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, dan Papua.

“Kondisi ini menunjukkan bahwa potensi karhutla masih perlu diwaspadai, khususnya pada wilayah dengan curah hujan rendah dan kondisi vegetasi yang semakin kering,” papar BMKG.

Meski demikian, hujan dengan intensitas lebat masih terjadi di sejumlah wilayah. Pada periode 1-4 Oktober 2026, curah hujan harian tercatat mencapai 91 mm di Sumatera Utara, 69 mm di Sumatera Barat, 67 mm di Aceh, dan 54 mm di Jawa Barat.

Aktivitas dinamika atmosfer turut mendukung peningkatan pembentukan awan hujan di sejumlah wilayah. Fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Ekuatorial, Gelombang Kelvin, dan Gelombang Mixed Rossby-Gravity (MRG) memengaruhi wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara, hingga Papua.

Selain itu, perlambatan kecepatan angin di beberapa wilayah serta suhu muka laut yang relatif hangat turut mendukung ketersediaan uap air dan proses pembentukan awan hujan.

BMKG mengatakan perbedaan kondisi tersebut mencerminkan karakteristik cuaca antarwilayah di Indonesia yang masih cukup beragam. Di satu sisi, kondisi kering yang mendominasi sejumlah wilayah perlu menjadi perhatian karena dapat meningkatkan risiko karhutla.

“Namun disisi lain, aktivitas dinamika atmosfer yang masih berlangsung memungkinkan terjadinya hujan sedang hingga sangat lebat, termasuk di wilayah yang secara umum mengalami curah hujan rendah,” ucap BMKG.

Editor: Rizky Agustian

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut