BMKG: Waspada Potensi Kekeringan, Puncak Kemarau Terjadi Agustus

Kurnia Illahi ยท Jumat, 31 Juli 2020 - 10:44 WIB
BMKG: Waspada Potensi Kekeringan, Puncak Kemarau Terjadi Agustus

Ilustrasi, prakiraan cuaca. (Foto: Istimewa).

JAKARTA, iNews.id - Musim kemarau melanda 69 persen dari 342 daerah ZOM di Indonesia. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh penguatan angin monsun Australia yang mengalirkan massa udara dingin dan kering dari Benua Australia menuju Asia melewati Samudera Indonesia dan wilayah Benua Maritim Indonesia.

Wilayah yang sebagian besar tengah mengalami musim kemarau di antaranya, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, Jawa Timur, sebagian besar wilayah Jawa Tengah, sebagian besar Jawa Barat, pesisir utara Banten dan DKI Jakarta.

Kemudian, Sumatera Selatan bagian timur, Jambi bagian timur, sebagian besar Riau, sebagian besar Sumatera Utara, pesisir timur Aceh, Kalimantan Tengah bagian selatan, Kalimantan Timur bagian timur, Kalimantan Selatan bagian utara dan Sulawesi Barat bagian selatan.

Selain itu, Pesisir selatan Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara bagian utara, Maluku bagian barat, Papua Barat bagian timur, dan Papua bagian utara dan selatan.

"Menguatnya aliran angin monsun Australia biasanya berkaitan dengan perkembangan sistim tekanan tinggi atmosfer di atas Benua Australia yang mendorong masa udara memiliki aliran yang lebih kuat dari biasanya," dikutip dari Bagian Hubungan Masyarakat Biro Hukum dan Organisasi BMKG, Jumat (31/7/2020).

BMKG mencatat, saat ini kecepatan angin, terutama di bagian selatan Jawa dan Bali menunjukkan kecepatan angin yang lebih kuat. Lombok, Denpasar, Solo, Yogyakarta, Bandung 10 - 20 knot. Jakarta, Semarang, Surabaya 5 - 10 knot, dengan 1 knot ~ 0.5 m/s.

Kota-kota di bagian selatan Jawa dan Bali juga menunjukkan suhu udara relatif lebih dingin dibandingkan bagian utara. Misalnya pada siang hari Lombok, Denpasar suhu 26- 28 derajat celsius, saat yang sama di Semarang, Jakarta, Surabaya 30-31 derajat celsius. Sedangkankan pada malam hingga pagi hari, suhu minimum tercatat pada 29 Juli terendah 10,4 derajat celsius di Ruteng, NTT, di Malang dan Bandung 17 derajat celsius, di Padang Panjang 18 derajat celsius.

Musim kemarau tersebut menyebabkan potensi kekeringan secara meteorologis pada 31 persen ZOM berdasarkan indikator Hari Tanpa Hujan berturut-turut (HTH) atau deret hari kering yang bervariasi dalam hitungan hari hingga bulan. BMKG memperkirakan, Agustus merupakan bulan yang diprediksi sebagai puncak musim kemarau bagi sebagian besar wilayah yang mengalami kemarau.

Sebanyak 65 persen ZOM akan mengalami puncak musim kemarau, yaitu sebagian besar wilayah NTT, NTB, Bali, sebagian besar Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, dan sebagian Kalimantan bagian selatan dan Sulawesi Selatan serta Papua bagian selatan.

Sementara 19 persen ZOM diprediksikan mengalami puncak musim kemarau pada September, meliputi sebagian besar Sumatera bagian tengah, Kalimantan bagian selatan, tengah dan timur, Sulawesi bagian barat dan Maluku.

Editor : Kurnia Illahi