BNPB Paparkan Kondisi Gunung Anak Krakatau dari Satelit Jepang

Ilma De Sabrini ยท Rabu, 26 Desember 2018 - 18:50 WIB
BNPB Paparkan Kondisi Gunung Anak Krakatau dari Satelit Jepang

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis foto kondisi Gunung Anak Krakatau sebelum dan sesudah terjadinya longsor bawah laut dari satelit Jepang, Jakarta, Rabu (26/12/2018). (Foto: iNews.id/ Ilma De Sabrini)..

JAKARTA, iNews.id - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis foto kondisi Gunung Anak Krakatau sebelum dan sesudah terjadinya longsor bawah laut. Foto tersebut diambil dari citra satelit beresolusi tinggi milik Jepang.

Dari foto tersebut nampak hampir setengah bagian dari Gunung Anak Krakatau menghilang. Foto diambil sebelum 20 Agustus 2018 setelah melewati Selat Sunda dan 24 Desember 2018.

"Ini baru saja mendapat citra satelit dari Jepang, " ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho saat konferensi pers di Kantor Graha BNPB, Jakarta Timur, Rabu (26/12/2018).

Dia menuturkan, gambar tersebut menunjukkan, tsunami di Selat Sunda pada Sabtu (22/12/2018) yang melanda wilayah Banten dan Lampung disebabkan adanya longsoran dari lereng Gunung Anak Krakatau. Bukan disebabkan oleh gempa tektonik.

"Memang betul sebagian lereng di barat daya runtuh. Inilah yang memicu terjadinya tsunami. Dari data BMKG seluas 64 hektare mengalami runtuh menyebabkan longsor bawah," tuturnya.

BACA JUGA:

Pantauan Satelit Longsoran Gunung Anak Krakatau Seluas 64 Hektare

BNPB: Gunung Anak Krakatau Butuh 500 Tahun untuk Erupsi Sedahsyat 1883

Sementara itu, pemerintah terus mengawasi dan menganalisis aktivitas Gunung Anak Krakatau. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bersama sejumlah instansi terkait di bawah Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman (Kemenko Maritim) masih mengkaji kemungkinan terjadinya tsunami susulan di Selat Sunda.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, hasil diskusi bersama sejumlah ahli ada usulan untuk memasang tide gauge atau alat pengukur tekanan dan tinggi rendah gelombang laut. Alat tersebut rencananya dipasang di tiga pulau di sekitar Gunung Anak Krakatau. Ketiga pulau itu, Pulau Rakata, Sertung, dan Panjang.

"BMKG, Badan Geologi, dan lembaga lain masih terus menganalisis itu (potensi tsunami susulan). Selama masih di Indonesia kemungkinan tsunami itu masih ada. Itulah kenapa dipasang tide gauge di pulau sekelilingnya. Seandainya ada tsunami bisa diketahui lebih dini," ujar Dwi saat konferensi pers di BNPB, Senin (24/12/2018).


Editor : Kurnia Illahi