Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Namanya Masuk Desil 4 DTSEN, Anggota DPR Eva Stevany Bantah Pernah Terima PKH
Advertisement . Scroll to see content

BPS Ungkap 39 Variabel Penentu Desil DTSEN, Bobot Penilaian Tak Dipublikasi

Selasa, 08 September 2026 - 18:42:00 WIB
BPS Ungkap 39 Variabel Penentu Desil DTSEN, Bobot Penilaian Tak Dipublikasi
Gedung BPS. (Foto: Istimewa)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkap penentuan kelompok atau peringkat desil tingkat kesejahteraanmasyarakat menggunakan pendekatan multidimensional. Dalam proses tersebut, terdapat 39 variabel yang digunakan untuk menentukan posisi seseorang dalam kelompok desil Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).

Deputi Bidang Statistik Sosial BPS Nashrul Wajdi menjelaskan, penentuan desil tidak didasarkan pada satu indikator saja, melainkan mempertimbangkan berbagai variabel.

"Untuk pemeringkatan itu kan multidimensional ya tadi. Multidimensional. Jadi, kita nggak pernah gunain single variabel untuk desil itu nggak pernah, ada 39 (variabel)," ucap Nashrul, Selasa (8/9/2026).

Meski menggunakan 39 variabel, BPS tidak mempublikasikan secara rinci bobot penilaian untuk masing-masing variabel tersebut.

Dia menambahkan, langkah tersebut dilakukan untuk mencegah munculnya moral hazard atau upaya memanipulasi data agar seseorang dapat masuk ke kelompok desil tertentu.

"Kenapa kemudian bobotnya itu nggak boleh setransparan mungkin, bisa jadi nanti ada moral hazard, gitu. 'Oh, saya kecil-kecilin deh, saya nggak punya semua aja deh', gitu. Padahal yang namanya desil itu kan peringkat relatif tadi ya," tuturnya.

Menurutnya, tidak dibukanya bobot variabel bukan berarti masyarakat tidak dapat mengetahui atau mengoreksi data kesejahteraan yang tercatat.

BPS menyediakan kanal yang memungkinkan masyarakat melihat data mereka dan mencocokkannya dengan kondisi sebenarnya. Jika ditemukan ketidaksesuaian, masyarakat juga dapat mengajukan sanggahan atau usulan perbaikan.

"Justru dengan kanal yang sekarang itu kan bisa dilihat sendiri tuh datanya. Misalnya mbaknya, sekarang datanya itu apakah sudah sesuai atau tidak. Itu sudah bisa dilihat nih data-data yang ada di kanal sekarang dengan data real-nya," ucap Nashrul.

Editor: Aditya Pratama

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut