Bukan Senjata Api, 7 Senjata Tradisional Indonesia Ini Bikin Pasukan Penjajah Ketakutan

Ajeng Wirachmi · Jumat, 31 Desember 2021 - 14:00:00 WIB
Bukan Senjata Api, 7 Senjata Tradisional Indonesia Ini Bikin Pasukan Penjajah Ketakutan
Tujuh senjata tradisional Indonesia yang bikin penjajah ketakutan. (Infografis: iNews.id)

JAKARTA, iNews.id - Walaupun bukan senjata api, 7 senjata tradisional Indonesia mampu membuat penjajah ketakutan. Saat berperang menghadapi penjajah Belanda dan Jepang, para pejuang Indonesia mengerahkan segala tenaga dan upaya demi mempertahankan Tanah Air. Tak memiliki senjata modern bukan alasan menyerah dan kalah. Berbekal senjata tradisional, rakyat Indonesia melakukan perlawanan hingga tetes darah terakhir. 

Berikut 7 senjata tradisional Indonesia yang bikin penjajah ketakutan:

1. Bambu Runcing

Bicara senjata tradisional di masa penjajahan sudah pasti nama bambu runcing paling dikenal. Senjata tradisional ini digunakan banyak masyarakat untuk melawan penjajah Belanda. Bambu runcing awalnya disebut cucukan. Seperti namanya, senjata ini terbuat dari bambu yang bagian ujungnya diruncingkan. 

Berdasarkan penelusuran, bambu runcing pertama kali digunakan pada 1941 oleh seorang ulama asal Temanggung, Jawa Tengah, bernama Kyai Subchi dan putranya, Kyai Noer. Bambu runcing semakin berkembang di masa penjajahan Jepang dan sering digunakan dalam latihan para pribumi yang tergabung dalam Keibodan, Seinendan, dan Gakutotai. Tentara Jepang menyebutnya dengan istilah takeyari.

2. Belati 

Bentuknya yang kecil serta tajam menjadikan belati khas Papua sebagai mematikan dan membuat penjajah tunggang-langgang. Belati umumnya terbuat dari tulang burung kasuari yang juga banyak terdapat di Papua. Di bagian gagang, terdapat rumbai mencirikan budaya Papua dan berasal dari bulu burung kasuari. Selain sebagai pelindung diri, belati Papua ini juga biasa digunakan untuk berburu.

Selain di Papua, belati juga dimiliki masyarakat Betawi. Bedanya, belati ini terbuat dari besi dan dilengkapi dengan sarung. Mengutip buku ‘Senjata Tradisional Daerah Khusus Ibukota Jakarta’ Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, belati Betawi ini biasanya digunakan para jawara sebagai senjata lempar, bukan sekadar menusuk. Oleh karena itu, jawara sangat memperhatikan jarak dan posisi lawan agar lemparannya tepat sasaran.

3. Golok

Senjata tradisional selanjutnya golok. Biasa digunakan oleh masyarakat Betawi, golok terbagi atas dua jenis, yakni golok kerja atau golok dapur serta golok simpenan. Seperti namanya, golok dapur biasa digunakan di dapur guna membantu aktivitas rumah tangga. Sementara itu, golok simpenan digunakan di waktu tertentu seperti saat penyembelihan hewan. Biasanya, golok simpenan yang memiliki nama lain golok bendo ini juga diselipkan di pinggang oleh pria Betawi dengan tujuan untuk berjaga-jaga. 

Seperti diketahui fungsi golok di masa penjajahan sangat berarti untuk tarung jarak pendek melawan kompeni. Golok biasanya digunakan para pendekar dari perguruan pencak silat. Peran mereka termasuk mencegah perampasan lahan yang dilakukan penjajah VOC atau para tuan tanah lantaran tak sanggung membayar upeti atau pajak, seperti di Condet pada 1916, Slipi, Tanah Abang, dan Cakung pada 1913, Tangerang pada 1924, dan Tambun pada 1869.

Sebagai bahan pembuatannya, gagang golok terbuat dari kayu keras dan kuat seperti rambutan dan jambu. Adapula yang terbuat dari tulang hewan dan gading. Bilah golok terbuat dari besi atau baja yang sangat tajam. Para jawara seringkali mengasahnya dan memberikan minyak bernama misik, yang tidak akan membuat golok karakatan. Dengan demikian, kondisi golok bisa selalu tajam.

4. Klewang

Klewang merupakan senjata tradisional yang digunakan pada masa perang Aceh di tahun 1873 sampai 1904. Klewang berukuran sekitar 35 sampai 75 cm dan sangat baik digunakan sebagai alat pertarungan jarak dekat.

Pahlawan perempuan asal Aceh, Cut Nyak Dien, juga sering membawa klewang bersamanya untuk berjaga-jaga serta alat pertahanan diri. Senjata ini dirasa sangat efektif membantu masyarakat Aceh melawan penjajah Belanda. 

Klewang. (Foto: wadaya.rey1024.com)
Klewang. (Foto: wadaya.rey1024.com)

Editor : Umaya Khusniah

Halaman : 1 2

Bagikan Artikel:







Lokasi Tidak Terdeteksi

Aktifkan untuk mendapatkan berita di sekitar Anda