Covid-19, Survei Alvara: Mayoritas Orang Tua Takut Anaknya Kembali ke Sekolah

Abdul Rochim ยท Minggu, 12 Juli 2020 - 20:36 WIB
Covid-19, Survei Alvara: Mayoritas Orang Tua Takut Anaknya Kembali ke Sekolah

Ilustrasi, aktivitas di sekolah. (Foto: Antara).

JAKARTA, iNews.id - Survei Alvara Research Center menunjukkan 54,5% orang tua tidak setuju jika kegiatan belajar kembali dilaksanakan di sekolah. Mereka khawatir anaknya tertular virus corona (Covid-19).

CEO Alvara Hasanuddin Ali mengatakan, para orang tua menilai anak-anak rentan terhadap penyakit. Selain itu anak-anak dinilai susah mengikuti protokol kesehatan seperti memakai masker dan mencuci tangan serta suka jajan sembarangan.

"2 dari 5 orang setuju jika anak sekolah masuk kembali setelah New Normal diberlakukan," ujar Hasanuddin saat merilis hasil survei secara virtual, Minggu (12/7/2020).

Sementara orang tua yang setuju kembali masuk sekolah menilai, anak justru tidak belajar ketika berada di rumah, bosan di rumah, susah disuruh belajar, anak jadi sering bermain dan kelayapan. Alasan lainnya, yaitu anak sudah kangen masuk sekolah, orangtua tidak memiliki teknik mengajar anak yang baik di rumah, menghabiskan kuota internet dan orang tua belum memahami substansi pelajaran.

Dia menyarankan agar pemerintah memberikan panduan kepada sekolah mengenai sistem belajar di rumah. Pemerintah tidak bisa hanya menyerahkan kepada sekolah untuk berkreasi dan membuat pola pendidikan sendiri di era pandemi ini.

"Pemerintah harus membuat SOP untuk memberikan panduan bagi sekolah dan juga kepada orang tua. Mereka juga perlu dibimbing cara mendidik anak yang dibutuhkan apa, kompetensinya apa, itu yang diperlukan orangtua," ucapnya.

Di sisi lain, kata dia juga harus ada penekanan dari pemerintah agar para guru tidak terlalu banyak memberikan tugas belajar kepada anak dalam sistem Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) sekarang ini. "Sekolah daring kok tugas terus, repot," katanya.

Menurutnya, kebutuhan kuota internet juga harus menjadi perhatian penting karena tidak setiap orang punya kemampuan membeli kuota internet.

"Kelompok bawah untuk makan saja belum punya duit maka bantuan tunai dan sembako sangat penting. Dalam kaitannya pendidikan, perlu ada bantuan kuota internet sehingga anak bisa mengikuti pembelajaran dengan internet," ucapnya.

Editor : Kurnia Illahi