Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Diserang Cairan Berbahaya saat Pidato, Politisi Muslimah AS Semprot Trump
Advertisement . Scroll to see content

Curhatan Partai Demokrat yang Diperlakukan Tidak Adil

Kamis, 04 Januari 2018 - 05:00:00 WIB
Curhatan Partai Demokrat yang Diperlakukan Tidak Adil
Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Hinca Panjaitan. (Foto: Okezone)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id – Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrat (PD) menggelar rapat darurat secara tertutup guna membahas ketidakadilan yang dialami dalam persaingan pemilihan kepala daerah (pilkada). Ketidakadilan bukan hanya terjadi pada Pilkada 2018 semata, tetapi sejak tahun lalu tepatnya pada Pilkada DKI Jakarta.

Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrat Hinca Panjaitan membeberkan sejumlah perlakuan tidak adil yang dialami partainya. Menurutnya, ketidakadilan yang diterima PD dalam pilkada terjadi sebanyak tiga kali.

"Kapan terjadinya perlakuan itu? Pertama, Pilkada Jakarta tahun 2017. Kedua, persiapan Pilkada Papua 2018. Ketiga, persiapan Pilkada Kalimantan Timur (Kaltim) 2018. Kami mendengar hal semacam ini akan terjadi lagi," ucap Hinca usai menggelar rapat di Jalan Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat pada Rabu (3/1/2017) malam.

Hinca menerangkan ketidakadilan yang diterima partainya pada Pilkada DKI Jakarta 2017. Saat itu, kata dia, Sylviana Murni yang maju sebagai calon wakil gubernur diperiksa penyidik polisi saat proses pilkada baru berlangsung.

"Itu menggerus citra pasangan ini (Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni). Hingga saat ini (kasus Sylvi) tidak diketahui hasil akhirnya, hanya tahu kapan dimulainya yaitu pada Pilkada 2017," ucapnya.

Perlakuan tidak adil selanjutnya adalah saat kediaman Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) diserang sejumlah orang tidak dikenal. Hinca mengaku penyerangan tersebut telah dipolisikan namun hingga saat ini tidak ada kelanjutan proses penegakan hukumnya.

"Tapi kami tidak mendengar hasil akhirnya hingga sekarang," katanya.

Keadilan yang tidak berpihak kepada PD selanjutnya adalah saat mantan Ketua KPK Antasari Azhar melontarkan tuduhan yang menyudutkan SBY. Hinca mengungkapkan, tuduhan Antasari tersebut sukses merusak popularitas AHY-Sylvi di Pilkada Jakarta 2017.

"Tuduhan tidak berdasar Antasari Azhar sudah kami laporkan pada penegak hukum tapi masih belum diproses secara tuntas. Kenyataannya pada hari itu pasangan AHY-Sylvi menempati survei tertinggi tapi kemudian tergerus. Meski begitu, kami menganggap itu selesai dan kami akui yang keluar sebagai pemenangnya (Anies Baswedan-Sandiaga Uno)," ungkapnya.

Semua perlakuan tidak adil bertambah berat bagi Demokrat setelah SBY dituding mendanai aksi kolosal bela Islam 411 dan 212. Hinca berharap perlakuan tidak adil yang diterima partainya tidak terulang.

"Pada waktunya akan kami buka agar tidak terulang lag. Dalam pertemuan ini kami membahas mengenai hal-hal yang berkaitan dengan keadilan dan demokrasi khususnya dalam pilkada," ucapnya.

Editor: Achmad Syukron Fadillah

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut