Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : COP30, Menteri Hanif Tegaskan Perdagangan Karbon Harus Sejahterakan Desa
Advertisement . Scroll to see content

Dapatkah Pemanasan Global Diatasi lewat Perdagangan Karbon?

Senin, 05 Januari 2026 - 12:43:00 WIB
Dapatkah Pemanasan Global Diatasi lewat Perdagangan Karbon?
Arifin Lambaga, Praktisi dan Pemerhati Industri Testing, Inspection, Certification (TIC)  (Foto: Dok Pribadi)
Advertisement . Scroll to see content

Arifin Lambaga
Praktisi dan Pemerhati Industri Testing, Inspection, Certification (TIC) 

APA yang dilakukan para ilmuwan lingkungan untuk mengatasi pemanasan global? Sebelum menjawab pertanyaan itu, pembahasan dapat dimulai dengan memahami pemanasan global. Pemanasan global, bukan ancaman kosong atau konsep rekaan yang diembuskan untuk menciptakan kepanikan global. Kenaikan suhu udara panas yang dirasakan warga dunia hari ini, adalah fenomena nyatanya. Manusia, tumbuhan, hewan, bakteri, virus, hingga jasad renik pengurai di dalam eksositem, telah berabad-abad berfungsi seimbang. Seluruhnya berkat mengadaptasi suhu udara yang ideal, bagi keberadaannya. 

Suhu udara yang diadaptasi itu, menjadi “ruang” yang nyaman bagi berlangsungnya proses-proses biologis. Perbedaan yang jelas antara musim kemarau dengan musim hujan, juga antara musim salju dengan musim gugur, digunakan sebagai patokan melangsungkan aktivitas biologis: kawin, berpindah sarang, mengumpulkan makanan. Namun tak hanya berlaku mikro pada masing-masing makhluk, secara makro juga menyebabkan kestabilan pola musim dari masa ke masa hingga terciptanya komposisi luas daratan dengan perairan yang pasti. Ketika hari ini terjadi perubahan suhu udara yang ekstrem, kehidupan turut berubah. Bahkan sebagian mengalami kekacauan. Perubahan suhu udara ekstrem itu terjadi akibat lingkungan kehilangan daya dukungnya.

Pada bulan Juli tahun 2023, bahkan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyebutnya sebagai bulan terpanas yang pernah tercatat.  Pada artikel yang dimuat media berita PBB, 2023, berjudul "Hottest July Ever Signals ‘Era of Global Boiling has Arrived’ Says UN Chief", Guterres menyebut: "Perubahan iklim telah tiba. Sungguh mengerikan dan ini baru permulaan". Disebut mengerikan lantaran konsekuensinya tragis. Anak-anak tersapu hujan monsun, keluarga-keluarga berlarian menghindari kebakaran dan para pekerja pingsan karena panas yang menyengat. 

Secara sederhana, seluruhnya terjadi akibat menumpuknya emisi, buangan, gas rumah kaca (GRK). GRK itu, dapat terdiri dari karbon dioksida (CO2), metana (CH4), maupun uap air (H2O) yang walaupun merupakan hasil proses alamiah, namun ketika produksinya berlebihan, akan menumpuk di atmosfir. Gas rumah kaca disebut demikian, merupakan analogi dari kerja rumah kaca yang lazim di bidang pembudidayaan tanaman. Rumah kaca yang dibangun bertujuan memerangkap panas yang dihasilkan matahari agar tak memantul menjauhi permukaan bumi. Panas yang terperangkap ini, berguna dalam proses pertumbuhan tanaman yang ada di dalamnya. Sehingga tumbuh subur, walaupun tak ada di lingkungan aslinya.

Namun dalam konteks rumah kaca yang ditimbulkan oleh emisi gas, bukan hanya tanaman yang ada di dalamnya. Manusia beserta makhluk hidup lain, juga bentang alam daratan dan perairannya adalah pengisi rumah kaca itu. Seluruh permukaan bumi seakan dimasukkan ke dalam rumah kaca. Akibatnya, seluruh pengisi itu dengan suhu yang makin panas mengalami percepatan gerakan. Molekul air di dalam es misalnya, bergerak lebih cepat. Ini menyebabkan es mencair. Termasuk yang terjadi di Kutub Utara maupun Kutub Selatan, yang semula terdiri dari bongkahan-bongkahan gunung es. Air yang semula beku, masuk ke badan-badan air: sungai, danau, laut, dan tentu saja sisanya membanjiri daratan, bahkan menenggelamkannya.

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut