Delik RCTI: Memantau Bencana Krakatau

RCTI ยท Minggu, 30 Desember 2018 - 18:35 WIB
Delik RCTI: Memantau Bencana Krakatau

Pantauan udara erupsi Gunung Anak Krakatau pada Minggu (23/12/2018) lalu. BMKG menyatakan longsoran tebing gunung ini telah memicu tsunami Selat Sunda pada Sabtu (22/12/2018) malam. (Foto: KKP).

JAKARTA, iNews.id - Jelang akhir 2018, bencana kembali mengguncang Tanah Air. Tsunami di Selat Sunda menyapu semua bangunan di tepi Pantai Pandeglang, Banten. Tidak hanya Pandeglang, namun ada empat kabupaten lain yang terdampak gelombang dahsyat itu yakni, Kabupaten Serang, Lampung Selatan, Pesawaran, dan Tanggamus.

Tsunami Selat Sunda sungguh tak terduga. Simpang siur informasi membuat warga semakin bingung. Bahkan melalui akun resmi media sosialnya, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) awalnya menginformasikan apa yang terjadi bukan tsunami, melainkan hanya gelombang pasang. BMKG akhirnya meralat informasi tersebut.

Tsunami diduga terjadi akibat dampak dari erupsi Gunung Anak Krakatau. Sementara itu, Menteri ESDM Ignasius Jonan justru menyebut penyebab lain terjadinya tsunami di Selat Sunda. Menurut Jonan, tsunami tersebut bukan dari aktivitas vulkanik Anak Krakatau.

Gunung Anak Krakatau merupakan salah satu gunung api aktif di Indonesia. Berlokasi di Selat Sunda seharusnya menjadikan warga sekitar meningkatkan kewaspadaan.

Sementara itu, hingga tujuh hari pasca-tsunami, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 431 orang meninggal dunia, 7.200 korban luka, 15 orang hilang dan lebih dari 40.000 orang mengungsi akibat bencana itu.

Sayangnya, meski sering diterpa bencana, namun dalam hal mitigasi bencana pemerintah dinilai belum maksimal. BNPB menyebut 22 buoy atau alat deteksi tsunami hilang dan tidak berfungsi sejak 2012. Padahal, keberadaan buoy sangat penting untuk negara seperti Indonesia yang rawan bencana tsunami.

Saat ini Indonesia hanya mengandalkan 5 buoy tsunami milik internasional, 1 unit di barat Aceh, 1 unit di laut Andaman, 2 unit di Selat Sumba dan 1 unit di utara Papua.

Ada hal penting lainnya yang juga seringkali diabaikan dalam mengantisipasi bencana, yaitu tata ruang yang tidak sesuai. Jika melihat lokasi wisata di Anyer dan Carita, hampir seluruh garis pantai tertutup oleh hotel, penginapan, dan vila. Rencana tata ruang menjadi rencana tata uang dengan mengabaikan mitigasi bencana.

Dengan tata kelola ruang yang memperhatikan faktor mitigasi bencana, maka diharapkan tidak ada lagi lokasi wisata yang membahayakan saat bencana datang.

Saksikan pentingnya mitigasi bencana dan tata kelola ruang itu di program "Delik: Memantau Bencana Krakatau", Minggu tengah malam ini, hanya di RCTI.


Editor : Zen Teguh