DEN Optimistis Pelemahan Rupiah Mereda pada Juli 2026, Ini Alasannya
Meski saat ini rupiah sedang tertekan, dia optimistis tekanan tersebut akan mulai melandai secara fundamental pada Juli 2026 seiring dengan selesainya periode pembayaran dividen kepada investor asing.
"Nah menurut kita secara fundamental ini nanti akan melandai di sekitar bulan Juli ketika event bayar dividen selesai dividen, naik. Nah ini dividen itu adalah rencana pembayaran dividen. Ini adalah duit yang mau dibayarkan oleh Indonesia ke investor-investornya," katanya.
Purbaya Nilai Pelemahan Rupiah Belum Hambat Aktivitas Ekonomi RI
Lebih lanjut, dia memaparkan bagaimana transmisi konflik global memengaruhi pelemahan rupiah melalui jalur impor energi. Sebagai negara importir bahan bakar minyak (BBM), kenaikan harga minyak dunia otomatis menguras cadangan dolar di pasar domestik.
Dia memberikan ilustrasi jika kebutuhan mencapai 50 miliar barel, maka kenaikan harga minyak dari 90 ke 100 dolar AS per barel akan menambah beban biaya impor sebesar 10 dolar AS per barel.
BI Buka Suara soal Rupiah Nyaris Sentuh Rp17.900 per Dolar AS
Kondisi ini diperparah dengan aksi investor asing yang cenderung melepas aset-aset di Indonesia, baik di pasar saham maupun obligasi. Ketika permintaan dolar melonjak tajam sementara suplai di pasar valas domestik tidak mencukupi, hukum supply and demand pun berlaku yang akhirnya mengerek nilai dolar AS dan menekan rupiah.
Dalam menghadapi dinamika ini, pemerintah terus memantau pergerakan pasar untuk membedakan antara gangguan jangka pendek dan stabilitas jangka panjang. Fokus utama saat ini adalah memastikan kebijakan struktural tetap berjalan guna menjaga kepercayaan pasar dan daya saing nasional.
"Jangka pendek ini yang terkait dengan hot money, dengan arus keluar masuk ekspor impor. Nah yang jangka panjang ini yang lebih sifatnya fundamental, yang sifatnya kebijakan," kata Luthfi.
Editor: Rizky Agustian