Di Balik Penunjukan Djamari Chaniago sebagai Menkopolkam
Dalam situasi pelik pascareformasi itu, ia membangun “pasukan” kecil yang spartan dan loyal, yang sekarang menjadi bagian terpenting dalam kekuasaannya. Namun, Prabowo sadar ia tidak bisa bergerak sendiri. Ia pun menyiapkan kelompok lain, terutama dari kalangan pensiunan tentara. Kini setelah menjabat presiden, Prabowo dikelilingi banyak orang, baik yang bergabung sejak awal, atau yang masuk di tengah jalan, dan di ujung jalan.
Kembali ke Djamari yang dibahas dalam tulisan ini. Setelah Agustus 2025, Prabowo mulai menyadari bahwa ia membutuhkan counterpart. Pilihannya jatuh pada seniornya di Akademi Militer (Akmil) yaitu Djamari Chaniago. Sosok tersebut mungkin dapat memberikan sudut pandang lain soal dalam mengelola kekuasaan. Preseden yang sama juga dilakukan mantan Presiden SBY yang memilih Sudi Silalahi (Akmil 1972) untuk menjadi Menteri Sekretaris Kabinet.
Bagaimana Posisi Djamari di antara Nama-nama Besar Alumni Akmil leting 60-70an?
Di tengah “perang bintang” para pensiunan jenderal, Djamari yang lulusan Akmil 1971 dapat menjadi hub senior dan junior. Ini bisa mengonfirmasi bahwa sepertinya nama Djamari memang muncul langsung dari Prabowo.
Selain sebagai counterpart, Djamari juga dipandang memiliki aspek strategis terutama dalam mengelola situasi-situasi kritikal ke depan. Apalagi ia pernah berada di jantung politik Jakarta saat terjadi krisis 1998. Saat itu ia menjadi Pangkostrad dari 23 Mei 1998 sampai 24 November 1999.
Memilih Djamari menunjukkan keinginan Prabowo ingin mendapatkan keseimbangan informasi di internal, sehingga informasi tidak hanya berasal dari ring ½, ring 1, koalisi partai, tetapi juga dari counterpart.