Di Mana Soeharto saat Soekarno-Hatta Proklamasikan Kemerdekaan Indonesia? Ini Jawabannya

Solichan Arif · Kamis, 18 Agustus 2022 - 06:39:00 WIB
Di Mana Soeharto saat Soekarno-Hatta Proklamasikan Kemerdekaan Indonesia? Ini Jawabannya
Di mana Soeharto saat Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia? (Foto: Istimewa)

JAKARTA, iNews.id - Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Namun kabar itu tidak serta-merta tersiar ke seluruh penjuru negeri.

Jepang yang saat itu menjajah Indonesia berusaha menutupi kabar kemerdekaan itu. Salah satu yang belum terjamah informasi tersebut yaitu pasukan Pembela Tanah Air (Peta).

Tentara Peta di luar Jakarta banyak yang belum tahu Indonesia telah merdeka dan Merah Putih telah berkibar. Mereka juga tidak tahu Jepang telah menyerah kepada Sekutu. Salah satunya Chudancho (Komandan kompi) Soeharto yang kelak menjadi Presiden Indonesia kedua.

“Sama sekali tidak terlintas dalam benak Soeharto bahwa Jepang telah menyerah atau terpikir bahwa Soekarno telah menyatakan kemerdekaan Indonesia,“ tulis David Jenkins dalam buku "Soeharto Di Bawah Militerisme Jepang".

Soeharto bergabung sebagai tentara Peta selama 22 bulan. Sebelum di Peta, dia merupakan tentara KNIL (tentara Belanda) yang resmi dimasukinya 1 Juni 1940. Dia meninggalkan KNIL setelah Jepang mengalahkan Belanda.

Di Peta, Soeharto memulai karier sebagai sukarelawan pasukan Kepolisian Jepang, Keibuho. Pada 1 Desember 1942 bersama sejumlah temannya, dia mendaftar Keibuho Yogyakarta.

Kariernya melesat dengan cepat. Pada 8 Oktober 1943, Soeharto diangkat sebagai Shodancho (Komandan peleton) dan ditempatkan di wilayah Wates, Yogyakarta. Pada tahun 1944, setelah mengikuti pendidikan militer lanjutan di Bogor, Jawa Barat, dia diangkat menjadi Chudancho. 

“Di asrama Peta Bogor dia tinggal bersama-sama dengan Shodancho Singgih,” tulis OG Roeder dalam buku "Anak Desa, Biografi Presiden Soeharto".

Singgih merupakan putra Panji Singgih, teman Bung Karno dalam pergerakan nasional. Pada 16 Agustus 1945, Singgih bersama Sukarni terlibat dalam penculikan Bung Karno dan Bung Hatta yang dikenal sebagai peristiwa Rengasdengklok.

Pada 15 Agustus 1945, di mana para tokoh pergerakan di Jakarta mengalami situasi tegang, Soeharto berada di Brebeg, Nganjuk, Jawa Timur, di kawasan lereng Gunung Wilis. Dia berada di sana sejak Maret 1945.

Sebelumnya, pada akhir 1944 dan awal 1945, dia mondar-mandir antara Solo, Jakarta, dan Madiun. Di Brebeg, Soeharto ditugasi Jepang melatih kembali para prajurit batalyon Peta Blitar yang dilucuti dan kehilangan semangat pasca pemberontakan Shodancho Soeprijadi tanggal 14 Februari 1945.

Pasca pemberontakan yang gagal itu, sisa prajurit batalyon Peta Blitar yang menyerah dialihkan ke Brebeg, Nganjuk. Mereka ditempatkan di sebuah desa sepi, di mana masih rimbun hutan cemara dengan banyak berkeliaran laba-laba hitam beracun. Sebagai hukuman, semua senjata mereka dilucuti dan diganti senjata kayu.

“Soeharto dikirim ke Brebeg, melatih anggota Peta junior untuk menjadi Bundancho sehingga dapat menggantikan senior mereka yang ditahan Jepang,” tulis David Jenkins.

Pada 18 Agustus 1945, yakni sehari setelah Proklamasi Kemerdekaan, Soeharto masih belum tahu Indonesia telah merdeka. Dia semakin tidak mengerti, ketika setelah melatih prajurit Peta, tentara Jepang tiba-tiba memerintahkan semua untuk bubar.

“Begitu saya selesai melatih prajurit-prajurit Peta tersebut, kami diperintahkan bubar,” kata Soeharto dalam memoarnya seperti dikutip dari buku "Soeharto Di Bawah Militerisme Jepang".

Dua hari kemudian atau 19-20 Agustus 1945, terjadi peristiwa yang membuat Soeharto semakin bingung. Peta dinyatakan telah dibubarkan disusul pelucutan senjata oleh Tentara ke-16 AD Jepang. Sebanyak 13.000 pucuk senjata diserahkan tanpa terjadi insiden.

Yang diketahui Soeharto, sesudah kesatuan-kesatuan Peta menyerahkan senjata, sejumlah perwira tentara Jepang tiba-tiba muncul secara rahasia di lerang Gunung Wilis. Mereka mengabarkan tentara Peta telah dibubarkan.

Para prajurit Peta, termasuk Soeharto dan rekan-rekanya dibebaskan pulang ke tempat asal masing-masing. Sebelum pulang Soeharto dan rekan-rekannya mendapat bayaran enam bulan gaji, ditambah jatah pakaian serta bahan makan berupa beras, garam dan gula.

Soeharto merupakan salah satu dari 2.150 perwira Peta yang dibubarkan sekaligus dilucuti Jepang. Soeharto yang tidak memiliki hubungan dengan para pemimpin gerakan nasionalis kemudian memutuskan pulang ke Yogyakarta.

Dalam perjalanan dia mendengar kabar tentang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, dan Jepang telah menyerah kepada sekutu. Namun semua itu belum bisa dipastikan kebenarannya.

Sesampainya di kota Yogyakarta pada akhir Agustus 1945, Soeharto melihat dengan mata kepala sendiri demam revolusi kemerdekaan. Pekik merdeka terdengar di mana-mana. Kabar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ternyata benar adanya. Dikutip dari "Anak Desa Biografi Presiden Soeharto", mantan perwira Peta Soeharto sangat kagum menyaksikan keadaan itu.

Tidak berlangsung lama, kelak pada 5 Oktober 1945, Soeharto ditunjuk sebagai wakil komandan Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang merupakan cikal bakal TNI. Dalam sejarah Indonesia, Soeharto kemudian menjadi Presiden Indonesia yang kedua menggantikan Bung Karno.

Editor : Rizal Bomantama

Follow Berita iNews di Google News

Bagikan Artikel:




Lokasi Tidak Terdeteksi

Aktifkan untuk mendapatkan berita di sekitar Anda