Driver Ojol Curhat Potongan Aplikator 8 Persen malah Bikin Pendapatan Turun, kok Bisa?
JAKARTA, iNews.id - Sejumlah driver ojek online (ojol) mengeluhkan kebijakan pemangkasan potongan aplikasi dari 20 persen menjadi 8 persen yang berlaku sejak 1 Juli 2026. Alih-alih meningkatkan kesejahteraan, kebijakan tersebut justru dinilai membuat pendapatan mitra driver menurun karena berkurangnya bonus dan program insentif dari aplikator.
Perwakilan Lady Ojol Indonesia, Netty Simangunsong mengatakan, dampak kebijakan tersebut mulai dirasakan melalui berkurangnya berbagai program promo dan insentif yang sebelumnya diberikan aplikator kepada mitra pengemudi.
Menurut dia, saat ini driver lebih banyak mengandalkan penghasilan dari jasa pengantaran penumpang tanpa tambahan keuntungan dari program harian aplikator.
"Kalau potongan 8 persen tetap kita menikmati, cuma kalau potongan 20 persen, banyak manfaat yang kita dapat di luar dari kita mendapat penghasilan," ujarnya saat ditemui di Jakarta, Kamis (5/11/2026).
Netty menjelaskan, sebelum kebijakan potongan 8 persen diterapkan, aplikator kerap memberikan berbagai program kepada mitra pengemudi. Salah satunya berupa penyelesaian tugas harian yang memberikan reward atau penghargaan sebagai tambahan penghasilan.
Namun, program-program tersebut kini dinilai semakin berkurang. Netty menduga, penurunan pendapatan aplikator akibat pemangkasan potongan turut memengaruhi kemampuan perusahaan dalam memberikan bonus kepada mitra.
"Kalau potongannya hanya 8 persen, berbagai bonus mungkin akan hilang. Bantuan-bantuan dari aplikator kepada mitra pengemudi maupun merchant juga bisa berkurang. Jadi, sebenarnya ada manfaat yang kita dapatkan ketika potongan aplikator sebesar 20 persen," ujarnya.
Selain bonus harian, Netty menilai besaran potongan aplikasi juga berkaitan dengan kemampuan perusahaan memberikan berbagai fasilitas untuk meningkatkan kesejahteraan pengemudi.
Dia mencontohkan sejumlah program yang pernah diberikan aplikator, mulai dari bantuan pendidikan untuk anak mitra driver, bantuan sosial, bantuan tunai saat Hari Raya Idulfitri, hingga program umrah bagi pengemudi terpilih.
Menurut Netty, program tersebut menjadi salah satu manfaat tambahan yang dirasakan pengemudi ketika aplikator masih menerapkan potongan sebesar 20 persen.
"Kalau potongan 20 persen itu ada bantuan dari aplikator membuat diskon promo, kita diberikan bonus, kita diberikan sekolah bagi anak-anak driver. Kalau cuman 8 persen ini, mereka (aplikator) mau ambil dari mana lagi," ucapnya.
Netty juga membandingkan pendapatan hariannya sebelum dan sesudah kebijakan pemangkasan potongan aplikasi diterapkan. Dia mengaku sebelumnya bisa memperoleh Rp500.000 hingga Rp600.000 dalam sehari saat bekerja sebagai pengemudi ojol.
Pendapatan tersebut berasal dari jasa pengantaran penumpang serta tambahan reward setelah menyelesaikan target harian dari aplikator. Namun, kini penghasilannya hanya sekitar Rp300.000 per hari.
"Kalau dulu itu Rp500-600 satu hari narik, kalau sekarang itu paling Rp300 lah. Kalau dulu bisa Rp500 ke atas, kalau sekarang tidak bisa lagi ke atas. Itu saja perbandingannya," kata Netty.
Pendapatan driver ojol justru turun setelah potongan aplikasi dipangkas menjadi 8 persen. Lady Ojol Indonesia mengaku penghasilan harian kini hanya Rp300.000.
Editor: Donald Karouw