Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : BMKG Tegaskan Informasi Squall Line dan Badai Ekstrem saat Malam Tahun Baru Hoaks
Advertisement . Scroll to see content

Dunia Digital di Mata Kaum Lansia

Rabu, 09 Maret 2022 - 18:42:00 WIB
Dunia Digital di Mata Kaum Lansia
Diah Ayu Candraningrum (Foto: Dok Pribadi)
Advertisement . Scroll to see content

Diah Ayu Candraningrum, MBA, M.Si
Staf Pengajar Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara
Mahasiswa Program Doktoral Departemen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Indonesia
 
PROGRAM Tular Nalar dengan tema 'Warga Lansia Cakap Digital' diluncurkan pada 7 Februari lalu. Ini adalah program yang fokus pada penyediaan materi pembelajaran tentang berpikir kritis dan literasi media. Inisiatif program ini dibuat oleh Maarif Institute, Mafindo (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia), Love Frankie, dan didukung Google.org. Kegiatan edukasi ini akan dilaksanakan mulai Maret hingga Agustus 2022, melalui pertemuan daring maupun luring (tatap muka) di 25 kota di Indonesia, seperti Jayapura, Makassar, Denpasar, dan Yogyakarta. Targetnya adalah 6.000 orang lanjut usia (lansia).

Program ini diadakan karena pertimbangan banyaknya lansia yang dianggap kurang mampu menyeleksi informasi dan mudah sekali menyebarluaskannya ke publik tanpa proses verifikasi. Selain itu lewat program ini, diharapkan kaum lansia juga bijak dalam menjalankan media sosial dan menjadi teladan bagi orang-orang di sekitarnya. Materi program yang disediakan cukup beragam, seperti video bertema pentingnya berpikir kritis, modul warga lansia cakap digital, serta panduan praktis tentang melawan hoaks Covid-19 dan vaksinasi, meredam ujaran kebencian, menghindari penipuan digital, dan melindungi data privasi. 

Salah satu pertimbangan diadakannya program ini karena kelompok usia di atas 45 tahun dianggap penyebar hoaks paling banyak. Kelompok ini terdiri dari warga pralansia dan lansia. Memang, menurut Kementerian Komunikasi dan Informasi, kelompok usia penyebar hoaks terbanyak adalah mereka berusia di atas 45 tahun (Kominfo, 2019). 

Hal ini senada dengan hasil studi peneliti di Princeston dan New York University melalui unggahan di akun Facebook. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, unggahan di Facebook tidak terkait dengan latar belakang pendidikan, jenis kelamin, dan pandangan politik. Justru faktor usia yang menjadi faktor utama penyebaran hoaks. Riset yang melibatkan 3.500 responden pengguna Facebook di Amerika Serikat ini mendapati 11 persen pengguna berusia 65 tahun ke atas berbagi hoaks. sedangkan 3 persen pengguna yang berusia 18-29 tahun menyebarkan informasi palsu.
 
Hal menarik lainnya adalah soal motif di balik konsumsi media yang dilakukan para lansia ini, yang berujung pada potensi penyebaran hoaks di media sosial. Menurut Rachmazein & Soedarsono, mayoritas kaum lansia saat ini adalah pengguna aktif media sosial Facebook. Alasannya, banyak fitur yang mulai ditinggalkan kaum milenial karena dianggap ‘jadul’ namun justru dianggap baru oleh lansia. Alhasil, kaum milenial pun beralih ke platform media sosial selain Facebook, sehingga Facebook mulai dipenuhi ‘warga senior.’ 

Tim riset media Tirto bersama Fellow dari International Center for Journalist (ICFJ) Astudestra Ajengrastri juga melakukan survei pada Februari 2019. Survei ini dilakukan terhadap 1.586 responden berusia 17 tahun ke atas. Dari survei ditemukan gender ternyata tidak berpengaruh langsung terhadap penyebaran informasi dan hoaks. Sebaliknya, usia ternyata memiliki korelasi positif terhadap pengaruh penyebaran kedua hal tersebut. Orang tua cenderung percaya dan meneruskan pesan yang didapatnya. 

Ada banyak motif di balik kegiatan konsumsi media. Menurut Papacharissi & Rubin (2000) dalam Rachmazein & Soedarsono (2021), terdapat lima motif utama seseorang dalam menggunakan media, khususnya media baru, yaitu (1) Motif Utility, yang terkait dengan manfaat utama dari internet berdasarkan kebutuhan khalayak; (2) Passing Time, terkait dengan fungsi internet yang diaplikasikan untuk mengisi waktu luang; (3) Seeking Information, terkait dengan informasi yang bisa diperoleh pengguna ketika menggunakan media; (4) Convenience, berhubungan dengan penggunaan media sebagai perwakilan emosi yang dimiliki penggunanya; (5) Entertainment, berhubungan dengan penggunana media untuk tujuan hiburan. 

Berdasarkan lima motif tersebut, hasil penelitian menyebutkan passing time yang tertinggi. Artinya, kaum lanjut usia banyak mengakses Facebook untuk kepentingan pribadi di waktu senggang atau sekadar mengisi waktu. Mereka terbiasa menggunakan Facebook untuk bersosialisasi dengan teman atau sekadar mendapatkan informasi dan selalu update dalam mendapatkan informasi. Dengan media sosial Facebook, para kelompok usia lanjut ini juga menemukan kenyamanan ketika mengaksesnya karena dianggap lebih mudah digunakan. Tak heran, mereka pun merasa terhibur dengan adanya media sosial Facebook.

Hal senada disampaikan kepada penulis ketika menjadi pembicara dalam webinar bertajuk 'Cara Bijak Menggunakan Gawai Bagi Lansia' yang diadakan media komunitas lansia geriatri.id pada September 2021 lalu. Para lansia yang menghadiri acara ini secara daring menjelaskan mereka senang mendapatkan informasi yang beragam dari internet dan tak segan untuk meneruskan kepada orang-orang terdekatnya. Mereka sama sekali tidak memikirkan akibat yang ditimbulkan jika ternyata informasi tersebut tergolong hoaks. Akibatnya muncul lah konflik dengan anak dan keluarga, menimbulkan rasa minder dan sakit hati dalam diri generasi tua ini.

Mengapa generasi tua melakukan hal yang tidak bertanggung jawab seperti itu? Hal ini disebabkan karena generasi tua memiliki pola pikir berbeda dengan generasi muda saat berhadapan dengan media sosial. Penyebabnya, orang tua lebih terlambat mengenal dan menggunakan internet dan media sosial dibandingkan generasi lebih muda (milenial dan generasi Z). Kesenjangan ini masih ditambah adanya persoalan biologis yang membuat kemampuan kognitif mereka menurun seiring bertambahnya usia. 

Berbeda dengan generasi muda, mereka lebih memahami cara mengonfirmasi kebenaran dari satu informasi sebelum membagikannya ke publik. Sebaliknya, kaum lansia cenderung berpaku pada kecepatan. Mereka menganggap dirinya adalah pemimpin atau pihak yang dianggap senior sehingga perlu menjadi yang terdepan dalam menyampaikan informasi, meski belum tentu benar. 

Dalam laporan Tirto sebelumnya, penyebaran berita bohong atau hoaks lebih sering dilakukan oleh orang tua berumur 45 sampai 60-an karena orang tua hanya melanjutkan pesan tersebut tanpa mengetahui kebenaran sesungguhnya.

Berdasarkan kajian Ilmu Komunikasi, apa yang terjadi pada kaum lansia tersebut sangat terkait dengan Pola Penggunaan Media (Media Consumption Pattern). Menurut Putnam (2000) dalam Lestari, Yulia, Puspita (2017), konsumsi media adalah penyebab paling dominan dari menurunnya level social capital dan public participation seseorang. Media, apa pun bentuknya, akan memprivatisasi waktu senggang manusia, segala aktivitas dan interaksi dengan orang lain. Di waktu senggang seseorang akan lebih banyak membicarakan masalah pribadi yang dibawa ke ranah publik. Putnam melihat garis batas antara publik dan privat dikaburkan oleh media. Persoalan yang seharusnya di ranah privat menjadi ranah publik lewat kooptasi media.

Pemikiran Putnam ini sejalan dengan Bennett & Segerberg (2012) yang melihat media engagement sebagai hasil dari media consumption. Bennett & Segerberg (2012) kemudian mendefinisikan media engagement sebagai kombinasi dari kognitif, motivasi, kebiasaan, dan perilaku yang normatif di mana hal ini konsisten dengan konten media dan konsumsi media oleh masyarakat (user) pada kehidupan sehari-harinya (Lestari, Yulia, Puspita, 2017). 

Karena itulah, alangkah baiknya diadakan program inisiatif seperti Tular Nalar di atas yang mampu memberikan pemahaman dan peningkatan literasi digital kepada semua targeting group, termasuk di antaranya kaum lanjut usia. Setidaknya, generasi tua tersebut akan mampu mengenal dan memilah informasi mana saja yang perlu disebarkan dan mana yang tidak sehingga tidak menimbulkan masalah di kemudian hari, baik untuk dirinya maupun lingkungan sekitarnya. Jika demikian, kaum lansia pun dapat menggunakan gadget dan media sosial dengan bijak. 

Editor: Anton Suhartono

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut