Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Dapatkah Rasionalitas Berpikir Bertahan di Zaman Artificial Intelligence? 
Advertisement . Scroll to see content

Jeda Keraguan: Jalan Menghadapi Pabrik Realitas Buatan Deepfake

Kamis, 19 Februari 2026 - 20:13:00 WIB
Jeda Keraguan: Jalan Menghadapi Pabrik Realitas Buatan Deepfake
Pemerhati Budaya dan Komunikasi Digital Pendiri LITEROS.org, Dr. Firman Kurniawan S. (Foto: Dok pribadi)
Advertisement . Scroll to see content

Dr. Firman Kurniawan S.
Pemerhati Budaya dan Komunikasi Digital
Pendiri LITEROS.org

MUNGKIN terlalu terlambat untuk menyampaikan ucapan: "Selamat Hari Pers Nasional" kepada seluruh insan pers di Indonesia. Upacara peringatan yang dipusatkan di Banten sudah berlangsung setidaknya 10 hari lampau. Tema HPN tahun ini: Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat. Semoga menjadi mantra yang menginspirasi seluruh pihak yang berkepentingan dengannya.

Namun demikian, tak ada salahnya berbagi perspektif. Perspektif soal tantangan yang dihadapi "pabrik realitas" ini di tengah kedigdayaan artificial intelligence (AI). Pers memang pabrik realitas. Dari informasi yang diformulasikannya, merahnya mawar dan kencangnya lari macan tutul memburu mangsanya. Juga dahsyatnya air bah maupun runtuhnya dinding tebing yang mengubur perkampungan akibat deforestasi yang semula tak terpikirkan khalayak, mampu dihadirkan pers.

Hanya saja, kemampuan mempabrikasi realitas itu kini makin dibayang-bayangi AI. Termasuk dengan produk deepfake-nya yang menjangkau hiperrealitas dan sulit dikenali pancaindra. Pers berhadapan dengan pabrik realitas lain yang mampu dengan dahsyat menciptakan kepalsuan.

Ini salah satunya: Deepfake Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa memberikan pernyataan kritis soal dana desa. Disebutkannya, "Dana desa cuman bikin foya-foya kepala desa. Sepertinya sejak dana desa dihapuskan, kadesnya yang paling menderita. Sejak ada dana desa, kadesnya jadi kaya-kaya. Sawah, tanah di mana-mana. Lebih baik dana desa dialokasikan buat infrastruktur di pedalaman. Karena selama ini dana desa banyak yang disalahgunakan. Selain itu, manajemen dan pola pikir kepala desa dalam mengolah dana desa, tidak mengerti tujuan dan manfaatnya… ". 

Tampak asli dan wajar, khas tampilan Pak Purbaya. Jutaan viewer unggahan itu memberi komentar bernada dukungan. Tampaknya dipicu keresahan atas pemanfaatannya yang dikhawatirkan tak mencapai tujuan. Dana yang cukup besar, namun berada di tangan dengan pengalaman pengelolaan yang minim. Sejak 2015, jumlah anggarannya terus merangkak naik, dari Rp20 triliun hingga mencapai Rp71 triliun pada 2024, dan disalurkan ke sekitar 75.259 desa di seluruh Indonesia. Lontaran Pak Purbaya yang waspada mengobati keresahan khalayak.

Hanya saja, pernyataan itu deepfake belaka. Ini disadari sebagian pemberi komentar bahwa yang disaksikan adalah kloning AI Pak Purbaya. Namun intensitasnya tak memantik komentar, bahkan perdebatan yang mempertegas status unggahan itu asli atau palsu. Artinya, manipulasinya berhasil menciptakan realitas palsu.

Sampai kemudian akun Instagram salah satu media mengunggah klarifikasi pada 6 Januari 2026. Disebutkannya, "Di media sosial beredar unggahan video yang mengeklaim Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan bahwa dana desa sering disalahgunakan. Menurut Purbaya, dana desa hanya membuat kepala desa atau kades menjadi kaya. Setelah ditelusuri tim cek fakta, unggahan video tersebut tidak benar dan merupakan hasil manipulasi AI. Simak penjelasan selengkapnya dalam video berikut."

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut