Elektabilitas Prabowo Disalip Ganjar, Gerindra Diingatkan soal Bubble Party

Abdul Rochim ยท Kamis, 23 Juli 2020 - 05:05 WIB
Elektabilitas Prabowo Disalip Ganjar, Gerindra Diingatkan soal Bubble Party

Menteri Pertahanan yang juga Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. (Foto: IG Prabowo).

JAKARTA, iNews.id – Elektabilitas Menteri Pertahanan Prabowo Subianto untuk pertama kalinya disalip figur lain dalam survei politik usai Pilpres 2019. Kali ini Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang melewatinya.

Mengacu hasil survei Indikator Politik Indonesia menunjukkan elektabilitas Ganjar Pranowo berada di urutan teratas dengan 16,2 persen. Ganjar dikuntit Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dengan elektabilitas 15 persen.

Dua kepala daerah ini melampaui elektabilitas Prabowo yang berada di urutan ketiga dengan tingkat elektabilitas 13,5 persen. Tingkat keterpilihan Ketua Umum Partai Gerindra ini bahkan turun dari sebelumnya 22,2 persen pada Februari lalu.

Pengamat politik Universitas Paramadina Jakarta Ahmad Khoirul Umam mengingatkan, hasil survei ini mesti menjadi warning bagi Partai Gerindra. Elektabilitas Prabowo yang merosot kemungkinan karena beberapa faktor.

Pertama, ketidakmampuan Prabowo dan Gerindra dalam menunjukkan kontribusi nyata dan efektivitas peran mereka di dalam pemerintahan. Hal ini ditambah rumor tak sedap belakangan ini terkait kerja kader Gerindra di pemerintahan.

Khusus Prabowo, saat ini Kementerian Pertahanan diterpa isu adanya pengelolaan APBN melalui rekening pribadi berdasarkan temuan BPK. Kendati telah diklarifikasi Kemhan, tak urung isu ini sempat menjadi perhatian publik.

Selain itu Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo yang juga kader Gerindra menjadi sasaran kritik terkait ekspor benih lobster. Hal ini yang ditengarai memicu turunya penilaian publik.

”Jika hal ini tidak diantisipasi, Gerindra berpotensi menghadapi political punishment dari basis pemilih loyal dan swing voters berupa pelemahan kepercayaan publik secara masif. Jika ini terjadi, Gerindra berpotensi menjadi bubble party,” ujar Khoirul Umam, Rabu (22/7/2020).

Umam menjelaskan, bubble party tersebut yakni saat sentimen kepercayaan publik melemah, elektabilitas partai akan mengempis hingga tinggal captive market semata. Di sisi lain basis swing voters yang dinikmatinya berpotensi mengalami defisit electoral.

Survei Indikator diselenggarakan pada 13-16 Juli 2020 dengan melibatkan 1.200 responden. Adapun margin of error 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Editor : Zen Teguh