Epidemiolog Ingatkan soal Transparansi Uji Klinis Obat Covid-19
JAKARTA, iNews.id - Epidemiolog asal Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman mengingatkan soal tranparansi uji klinis obat yang diklaim ampuh menyembuhkan virus corona (Covid-19) racikan Universitas Airlangga (Unair). Bahaya efek samping mengancam jika uji klinis tidak dilakukan sesuai aturan yang berlaku.
Hal tersebut, berdasarkan pengalaman Dicky yang terlibat langsung dalam penanganan pandemi swine flu 2009 dan avian flu (flu burung). Saat itu, dia ikut melakukan negosiasi terhadap obat antivirus tamiflu (oseltamivir).
"Pengalaman pandemi sebelumnya menunjukkan bahwa pengabaian terhadap kaidah akan menjadi masalah besar. Salah satunya saya beri contoh pelajaran mahal dari pandemi avian flu dan swine flu dalam proses riset tamiflu," katanya, Rabu (19/8/2020).
"Saya kebetulan ikut negosiasinya tahun 2009 dampingi Prof Fadilah. Risetnya tidak transparan tapi tetap dipaksakan jadi obat karena beragam faktor. Barulah pada 2013 dan 2014 kemudian ditemukan banyak efek samping yang fatal yaitu kematian pada anak dan juga gangguan mental dan neurologis," tuturnya.
Dicky berharap temuan obat yang diklaim Unair bisa menyembuhkan Covid-19 dilakukan tidak dengan main-main. Kepatuhan terhadap kaidah riset ilmiah menjadi pegangan.