ESDM Ungkap Biang Kerok Antrean Pertalite Mengular di Sejumlah Daerah
JAKARTA, iNews.id - Antrean panjang pembelian Bahan Bakar Minyak (BBM), khususnya Pertalite terjadi di sejumlah daerah. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut antrean terjadi karena gangguan distribusi akibat fenomena El Nino.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman menjelaskan, kekeringan membuat sejumlah sungai mengering. Kondisi tersebut menghambat distribusi BBM yang sebelumnya menggunakan kapal melalui jalur sungai.
Pengiriman kemudian dialihkan menggunakan truk tangki. Namun, kapasitas angkut truk lebih kecil dibandingkan kapal, sementara waktu pengirimannya juga lebih lama.
"Kondisi El Nino ini menyebabkan proses pengiriman dan distribusi yang contohnya misalnya lewat sungai, sungainya kering, lalu dikirim pakai truk, dan truknya ini kapasitasnya tidak sebesar kalau kita mengirimkan dengan menggunakan kapal-kapal di sungai," ujarnya dalam Rakor Inflasi bersama Kemendagri di Jakarta, Senin (5/10/2026).
Di sisi lain, Laode menyebut ketersediaan stok BBM nasional masih berada di kisaran 18-20 hari. Sementara itu, kapasitas maksimum tangki penyimpanan BBM secara nasional berada di kisaran 25-28 hari.
Level ketahanan stok tersebut memang masih berada di bawah ketentuan International Energy Agency (IEA) yang menetapkan standar minimal 90 hari. Namun, pemerintah memastikan stok BBM nasional tetap tersedia.
"Tetapi dari sisi ketahanan stok, 18 sampai 20 hari selalu tersedia dan kami juga selalu bekerja sama dengan Pemda untuk dalam rangka mitigasi kondisi-kondisi yang terjadi di lapangan," tambahnya.
Selain kendala distribusi, antrean BBM yang sebelumnya ramai di media sosial juga dipengaruhi perubahan pola konsumsi masyarakat. Sebagian konsumen yang sebelumnya menggunakan BBM non-subsidi beralih ke BBM subsidi setelah harga BBM non-subsidi mengalami kenaikan signifikan di tengah volatilitas harga minyak dunia.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya menyoroti perubahan konsumsi tersebut. Dia menyebut sejumlah kendaraan berukuran besar, termasuk Pajero hingga truk, diduga memiliki tangki dengan kapasitas sangat besar. Bahkan, mampu menampung sekitar 700 liter hingga 1 ton BBM.
"Masalahnya sekarang adalah banyak orang yang awalnya tidak memakai BBM subsidi, sekarang shifting pindah ke subsidi. Ini karena harganya melonjak. Itulah yang terjadi sebagian di Makassar," kata Bahlil dalam acara InTech SEA 2026 di Jakarta, Senin (14/9/2026).
Editor: Puti Aini Yasmin