FAO Ungkap 43,5% Masyarakat RI Tak Mampu Beli Makanan Bergizi, MBG Dianggap Solusi
Soedjatmiko juga menyoroti MBG untuk ibu hamil, menyusui, bayi, balita di bawah dua tahun (baduta) dari keluarga miskin memiliki manfaat jangka panjang yang jauh lebih besar. Efisiensi dana juga sangat besar apabila MBG lebih tepat sasaran.
Sementara keluarga yang sudah mampu bisa mandiri memenuhi asupan gizi hariannya. Selain harus mengutamakan keluarga miskin, Soedjatmiko juga menyarankan agar MBG harus dibarengi dengan program percontohan pengolahan bahan pangan lokal.
“Agar keluarga mereka mampu menyiapkan makanan bergizi secara mandiri dan tidak selamanya bergantung pada bantuan,” ujarnya.
Sementara dalam aspek pembangunan ekonomi, MBG adalah investasi strategis untuk membangun infrastruktur manusia Indonesia. Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menyampaikan program MBG berpotensi berkontribusi terhadap peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF M Rizal Taufikurahman menjelaskan proyeksi tersebut merupakan hasil riset menggunakan model Overlapping Generation Indonesia (OG IDN).
“PDB atau GDP meningkat moderat dengan puncaknya di angka 0,15 sampai 0,17 persen pada awal 2040-an,” ucap Rizal.
Hal ini menunjukkan kecerdasan yang dibangun hari ini adalah modal utama pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan. Namun begitu untuk mengimplementasikannya tentu tidak mudah. Perlu dukungan dari seluruh elemen masyarakat agar program MBG bisa tepat sasaran dan berdampak lebih luas.
Editor: Rizky Agustian