Gedung Penghubung 7 Moda Transportasi di Bandara Soetta Mulai Dibangun, Target Beroperasi Februari 2027
JAKARTA, iNews.id - Tujuh moda transportasi akan terhubung dalam satu kawasan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), Kota Tangerang, Banten. Konektivitas itu akan diwujudkan melalui pembangunan Integrated Building yang ditargetkan beroperasi pada Februari 2027.
PT Hutama Karya (Persero) saat ini tengah mengerjakan pembangunan fasilitas tersebut sebagai simpul perpindahan penumpang dari satu moda transportasi ke moda lainnya.
Pj Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Hamdani menuturkan, Integrated Building disiapkan untuk menghubungkan berbagai layanan transportasi di kawasan Bandara Soekarno-Hatta.
Bangunan yang berada di antara Terminal 1 dan Terminal 2 itu berdiri di atas lahan seluas 18.487 meter persegi dengan luas bangunan sekitar 60.000 meter persegi.
Tujuh moda yang akan terhubung melalui fasilitas tersebut yakni Skytrain, Kereta Bandara, kendaraan pribadi, taksi, bus, shuttle bus, serta angkutan antarkota atau travel.
Selain menjadi titik perpindahan penumpang, Integrated Building dilengkapi area parkir, fasilitas drop-off dan pick-up, ruang tunggu, hingga area retail komersial. Dengan konsep ini, penumpang dapat berpindah dari satu moda ke moda lainnya dalam satu kawasan yang saling terhubung.
Secara fisik, bangunan tersebut terdiri atas Gedung Sayap Selatan dengan dua lantai dan Gedung Sayap Utara dengan tiga lantai, termasuk mezzanine. Pembagian ruang disesuaikan dengan kebutuhan pergerakan penumpang, kendaraan, serta koneksi antarmoda.
Pembangunan dilakukan di tengah aktivitas operasional Bandara Soekarno-Hatta yang tetap berjalan. Karena itu, pekerjaan konstruksi membutuhkan koordinasi lintas bidang dan pengendalian agar tidak mengganggu aktivitas di kawasan bandara.
Untuk mendukung proses pembangunan, Hutama Karya menerapkan Building Information Modelling (BIM) 5D. Teknologi tersebut digunakan untuk menghitung kebutuhan material utama, melihat keterkaitan antarpekerjaan, serta mengidentifikasi potensi benturan atau clash antara pekerjaan struktur, arsitektur, dan mekanikal, elektrikal, serta plumbing (MEP).
"Kondisi tersebut membutuhkan koordinasi dan pengendalian pekerjaan yang baik, mulai dari pelaksanaan konstruksi hingga aspek keselamatan dan keamanan," ujar Hamdani dalam keterangan tertulis, Jumat (25/9/2026).
Dari sisi desain, Integrated Building memadukan konsep modern-kontemporer dengan unsur budaya lokal. Fasad bangunan menggunakan panel Glass-Fiber Reinforced Concrete (GRC) berwarna oranye-terakota dengan motif Mega Mendung, salah satu motif khas batik Cirebon.
Pembangunan fasilitas tersebut menggunakan material utama berupa besi dan beton. Besi dipasok dari Surabaya, sedangkan beton berasal dari wilayah sekitar Bandara Soekarno-Hatta.
Setelah beroperasi, Integrated Building diharapkan memperkuat konektivitas antarmoda di Bandara Soekarno-Hatta sekaligus menyediakan ruang pelayanan dan komersial bagi pengguna jasa bandara.
Editor: Aditya Pratama