Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Dugaan Keracunan MBG di Purworejo, Operasional SPPG Kaliboto Dihentikan Sementara
Advertisement . Scroll to see content

Gibran Soroti Perundungan Anak Korban Keracunan MBG, Kak Seto: Sikap Tegas Wapres Harus Ditiru

Selasa, 22 September 2026 - 12:17:00 WIB
Gibran Soroti Perundungan Anak Korban Keracunan MBG, Kak Seto: Sikap Tegas Wapres Harus Ditiru
Kak Seto menilai sikap Wapres Gibran menyoroti dugaan perundungan terhadap korban dugaan keracunan MBG perlu menjadi contoh bagi pejabat lainnya. (Foto: Ist)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi atau Kak Seto menilai sikap Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang menyoroti dugaan perundungan terhadap korban dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) perlu menjadi contoh bagi pejabat pemerintah lainnya.

Menurutnya, perlindungan anak dari kekerasan fisik maupun psikologis harus menjadi perhatian semua pihak.

Pernyataan itu disampaikan Kak Seto setelah Gibran menyayangkan perkataan seorang staf Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Muntuk, Dlingo, Bantul, yang dinilai mengolok-olok kondisi Agnesia dan Febiona, korban dugaan keracunan MBG asal Karo, Sumatera Utara. 

Video staf SPPG tersebut sebelumnya viral di media sosial dan mendapat perhatian Gibran.

“Iya betul sekali. Itu adalah sikap tegas dari pejabat pemerintah yang harus ditiru oleh pejabat-pejabat lainnya, bahwa perlindungan terhadap anak atas segala tindak kekerasan baik fisik maupun psikologis adalah mutlak dan tidak boleh ditoleransi sama sekali,” kata Kak Seto, Selasa (22/9/2026).

Kak Seto mengatakan, anak yang telah mengalami sakit dan penderitaan semestinya mendapatkan dukungan. Menurut dia, menjadikan kondisi anak sebagai bahan olok-olokan dapat berdampak terhadap kepercayaan diri dan kondisi psikologis mereka.

“Dalam konteks perlindungan anak, anak juga jangan disudutkan, apalagi sudah menjadi korban, menderita, sakit, segala macam ini, terus jadi bahan-bahan olok-olokan itu sungguh suatu tindakan pelanggaran hak anak,” ujar Kak Seto.

Dia menilai kondisi tersebut dapat membuat anak semakin tertekan, terlebih jika olok-olokan diterima ketika mereka masih dalam proses pemulihan.

“Iya, semakin tidak percaya diri nanti, jadi artinya dia sudah sakit, menderita, kemudian dijadikan bahan olok-olok, segala macam, ibaratnya sudah jatuh tertimpa tangga,” lanjut Kak Seto.

Karena itu, Kak Seto mengimbau masyarakat maupun pihak yang berada di sekitar anak untuk menjaga ucapan. Dia meminta kondisi anak tidak dijadikan bahan candaan karena dapat masuk dalam bentuk kekerasan terhadap anak.

“Jadi dalam hal ini sekali lagi kami mengimbau agar semua pihak tidak melakukan olok-olokan itu yang sebetulnya tidak lain adalah bentuk kekerasan terhadap anak,” tambah Kak Seto.

Dia juga meminta pihak sekolah memastikan lingkungan belajar tetap aman ketika Agnesia dan Febiona kembali mengikuti kegiatan belajar mengajar. Dukungan dari lingkungan sekolah dinilai penting agar keduanya dapat kembali beraktivitas tanpa menghadapi perundungan.

“Iya, tentu biar sekolah mohon bisa menerima ini dengan baik, juga tidak melakukan bullying, perundungan, atau pun apa pun, olok-olok, dan sebagainya,” ucapnya.

Editor: Donald Karouw

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut