Hakim Tipikor Sebut Menpora Imam Nahrawi Tidak Peduli Uang Negara

Antara ยท Selasa, 30 April 2019 - 05:01 WIB
Hakim Tipikor  Sebut Menpora Imam Nahrawi Tidak Peduli Uang Negara

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi saat bersaksi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (29/4/2019). (Foto: Koran SINDO/Sabir Laluhu)

JAKARTA, iNews.id – Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Bambang Hermanto, menilai Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi tidak peduli dengan penggunaan uang negara di kementerian yang dipimpinnya. Hal itu disampaikan sang hakim dalam persidangan kasus suap dana hibah Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) dengan terdakwa Ending Fuad Hamidy, Senin (29/4/2019).

“Saudara (Imam) sama sekali tidak peduli dengan uang negara ini. Uang sudah dibuang, penyimpangannya banyak, lantas dimana letak kesalahan seperti ini?” tanya Hakim Bambang.

“Setelah peristiwa ini, kami rapat internal. Semua deputi dan eselon II kami undang untuk melakukan evaluasi lebih lanjut dan BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) sudah memeriksa keuangan di Kemenpora,” jawab Imam.

Hakim Bambang menyampaikan hal tersebut karena Imam belum juga menjatuhkan sanksi internal kepada para pejabat dan pegawai Kemenpora yang menerima suap dalam perkara suap dana hibah KONI. Ada tiga orang tersangka dari pihak Kemenpora dalam perkara tersebut yaitu Deputi IV bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora, Mulyana; Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora, Adhi Purnomo, dan; Staf Deputi IV Olahraga Prestasi Kemenpora, Eko Triyanta.

“Apa kesalahan mereka? Sejauh mana pemeriksan internal atas kesalahan Mulyana yang sesuai disposisi Saudara ditelaah dan dilaporkan?” tanya Hakim Bambang.

“Kami belum melakukan itu,” jawab Imam.

BACA JUGA:

Kasus Dana Hibah KONI, Saksi: Rp300 Juta Dipakai untuk Muktamar NU

Sidang Kasus Suap KONI, Imam Nahrawi Mengaku Umrah Dibiayai Kemenpora

“Kenapa? Ini kan tanggung jawab Saudara. Kan paling tidak seharusnya dilakukan pemeriksaan?” tanya hakim Bambang.

“Kami tugaskan Inspektorat dan Biro Hukum terhadap hal ini untuk dievaluasi,” jawab Imam.

“Sampai sekarang belum ada ya?” tanya hakim Bambang lagi.

“Belum.”

“Apa tanggung jawab Saudara terhadap anak buah?”

“Rentang kendali sebagai menteri panjang, dan saya sudah memberikan delegasi bila ditemukan tidak sesuai verifikasi akan secara administrasi keuangan akan dilihat Inspektorat dan BPK. Kalau kegiatan bila tidak sesuai rancangan anggaran, akan jadi evaluasi kami,” jawab Imam.

“Saudara harusnya lebih tanggap untuk memeriksa, jangan dibiarkan saja begitu tapi hasilnya kan belum ada,” tegas hakim Bambang.

Imam bersaksi untuk terdakwa Sekretaris Jenderal (Sekjen) KONI, Ending Fuad Hamidy. Ending didakwa menyuap Mulyana dengan satu unit mobil Fortuner, uang Rp400 juta, dan satu unit ponsel Samsung Galaxy Note 9. Ending juga didakwa menyuap Asisten Olahraga Prestasi pada Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora, Adhi Purnomo, dan; Staf Deputi IV Olahraga Prestasi Kemenpora, Eko Triyanta, senilai Rp215 juta.

Suap itu diberikan agar Kemenpora mencairkan pertama, dana hibah tugas pelaksanaan tugas pengawasan dan pendampingan program peningkatan prestasi Olahraga Nasional pada multi event Asian Games ke-18 dan Asian Para Games ke-3 pada 2018 senilai Rp30 miliar dan kedua, dana pengawasan dan pendampingan seleksi calon atlet dan pelatih atlet berprestasi tahun 2018 sejumlah Rp17,971 miliar.


Editor : Ahmad Islamy Jamil