Harga Minyak Dunia Melemah, Brent Keluar dari Level 100 Dolar AS per Barel
JAKARTA, iNews.id - Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan tajam hingga kembali ke bawah 100 dolar AS per barel. Pelemahan terjadi setelah hasil pemilu paruh waktu Amerika Serikat (AS) memperbesar tekanan politik terhadap Presiden Donald Trump untuk mengakhiri perang dengan Iran.
Minyak mentah jenis Brent, yang menjadi acuan internasional, sempat merosot 9,2 persen menjadi 94,11 dolar AS per barel. Level tersebut menjadi yang terendah sejak awal Oktober sekaligus menandai penurunan di bawah batas psikologis 100 dolar AS per barel.
Penurunan harga minyak turut menyeret saham sejumlah perusahaan energi besar. Saham ExxonMobil melemah 4,8 persen, sedangkan ConocoPhillips anjlok 5,9 persen.
Sebelumnya, saham perusahaan minyak tersebut menguat selama sebagian besar tahun ini setelah AS dan Israel melancarkan perang terhadap Iran. Konflik tersebut memicu lonjakan harga minyak mentah di pasar global.
Harga Brent sendiri bergerak dalam rentang sekitar 70-120 dolar AS per barel sejak menjelang pecahnya perang Iran.
Meski sempat jatuh di bawah 95 dolar AS per barel, harga minyak kembali menguat pada perdagangan Jumat (6/11/2026). Pelaku pasar mulai mencermati peluang perubahan hubungan AS dan Iran setelah hasil pemilu paruh waktu.
Kontrak Brent untuk pengiriman Januari ditutup naik 0,85 persen menjadi 99,13 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember menguat 0,68 persen menjadi 91,14 dolar AS per barel.
Kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu paruh waktu diperkirakan dapat meningkatkan tekanan politik terhadap pemerintahan Trump untuk mengakhiri konflik. Pasar berharap meredanya perang dapat membuka kembali jalur pengiriman minyak melalui Selat Hormuz yang selama ini terganggu.
Namun, peluang tercapainya kesepakatan damai masih belum pasti. Ketidakpastian mengenai kelanjutan konflik membuat pasar tetap rentan terhadap perubahan sentimen dan gangguan pasokan.
Namun di tengah gejolak harga, kelompok negara produsen minyak OPEC+ memutuskan mempertahankan target produksi untuk Desember 2026. Keputusan tersebut diambil dalam pertemuan tujuh negara anggota pada 1 November lalu.
Negara-negara tersebut terdiri atas Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Kazakhstan, Aljazair, dan Oman. OPEC+ juga menjadwalkan pertemuan berikutnya pada 29 November untuk mengevaluasi kondisi pasar dan membahas kebijakan produksi selanjutnya.
Sementara itu, Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan permintaan minyak dunia turun 2,6 juta barel per hari sepanjang 2026. Penurunan tersebut dipengaruhi perang Iran, lonjakan harga bahan bakar, serta memburuknya prospek ekonomi di sejumlah negara.
IEA juga mencatat pasokan minyak global meningkat menjadi 102,3 juta barel per hari pada September. Namun, pemulihan pasokan di kawasan Timur Tengah masih rentan terganggu oleh serangan terhadap infrastruktur energi dan kapal tanker.
Editor: Aditya Pratama