Hashim Ungkap Asal Usul Program MBG: Digagas Prabowo sejak 2006
“Waktu itu 2006 saya ingat, 30 persen ini menurut Kementerian Kesehatan waktu itu, 30 persen anak-anak Indonesia waktu itu menderita dari kondisi namanya stunting, 30 persen. Sewaktu itu Pak Prabowo bilang ke saya, kalau ini tidak bisa ditanggulangi kondisi yang berat ini kita bisa bayangkan 20 tahun kemudian, dia bilang 30 persen angkatan kerja dari angkatan kerja Indonesia itu 30 persen adalah orang-orang yang menderita stunting, 30 persen,” ujarnya.
BGN Bantah Pengadaan 32.000 Unit Laptop dan Alat Makan MBG Rp4 Triliun
Hashim menekankan bahwa dampak stunting bukan sekadar masalah fisik, melainkan kapasitas intelektual. Dia membandingkan rata-rata IQ penderita stunting yang berada di angka 72, jauh di bawah rata-rata manusia normal yang berada di angka 100.
“Sekarang 20 tahun, 20 tahun dari 2006 sekarang jangan-jangan 30 persen dari para pekerja kita di desa atau di pabrik atau di kota besar menderita dari stunting. Coba, dengan IQ rata-rata yang Saya dengar 72. Orang-orang yang stunting mereka IQ-nya rata-rata 72 dari manusia yang biasa 100,” ucap Hashim yang juga merupakan adik kandung Presiden Prabowo itu.
Lagi! Ratusan Dapur MBG Kena Suspend, BGN Komitmen Jaga Standar Kualitas
Karena itu, Hashim menegaskan bahwa program MBG menjadi langkah strategis untuk memutus rantai stunting dan meningkatkan kecerdasan generasi mendatang, terutama bagi anak-anak yang selama ini mengalami hambatan pertumbuhan.
Terkait pelaksanaan program MBG, Hashim tidak menampik adanya hambatan teknis di lapangan. Namun, dia menyayangkan adanya pihak-pihak yang menyerang program ini.
Perintah Prabowo ke Wakil Kepala BGN: Tertibkan Dapur MBG Jelek!
“MBG ada salah satu program utama dari Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Dan di sini kita lihat bahwa tulisan saja program MBG ini banyak diserang oleh kelompok-kelompok tertentu dengan fitnah dan hoax dengan kebohongan. Namun kita harus betul-betul menanggapi aspirasi dari rakyat yang benar-benar aspirasi yang tulus,” tuturnya.
Editor: Aditya Pratama