Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : BRIN Minta Maaf usai Salah Posting Gambar Garuda Pancasila, Diduga Buatan AI
Advertisement . Scroll to see content

Hasto PDIP: Pancasila Bukan Sekadar Ideologi, tapi Gugatan terhadap Kolonialisme

Selasa, 02 Juni 2026 - 17:12:00 WIB
Hasto PDIP: Pancasila Bukan Sekadar Ideologi, tapi Gugatan terhadap Kolonialisme
Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP PDIP Hasto Kristiyanto. (Foto: Istimewa)
Advertisement . Scroll to see content

LEBAK, iNews.id - Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP PDIP Hasto Kristiyanto menegaskan Pancasila memiliki dimensi perlawanan terhadap kolonialisme. Dia mengatakan lahirnya Pancasila pada 1 Juni 1945 tidak bisa dilepaskan dari semangat perlawanan terhadap penindasan. 

Menurutnya, pidato Bung Karno di hadapan Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) adalah sebuah manifesto besar untuk kemerdekaan yang hakiki. 

“Pancasila bukan hanya ideologi bangsa, tetapi Pancasila juga harus membangun suatu tata dunia baru,” ujar Hasto saat membuka pameran foto, surat dan komik Bung Karno di halaman patung Multatuli, Saidjah, dan Adinda, di Rangkasbitung, Lebak, Banten, Selasa (2/6/2026). 

Lebih lanjut, dia memaparkan nilai-nilai Pancasila yang dirumuskan oleh Bung Karno merupakan antitesis dari praktik penjajahan. Dia menyebut pidato 1 Juni 1945 Bung Karno adalah gugatan terhadap imperialisme dan kolonialisme yang bekerja ratusan tahun di Indonesia.

Semangat Pancasila sebagai alat melawan ketidakadilan kemudian dikaitkan Hasto dengan kondisi demokrasi saat ini. Dia mengingatkan nilai Pancasila harus termanifestasi dalam kebebasan rakyat dan kedaulatan politik. 

"Ketika ada pihak manapun yang mencoba menghancurkan kebebasan kita untuk membela kepentingan rakyat, itu tanda-tanda hadirnya kolonialisme baru dalam sistem sosial politik kita,” ujarnya. 

Hasto juga mengajak peserta pameran untuk mengambil filosofi dari alam untuk benar-benar mempelajari lebih dalam tentang makna Pancasila.

"Jangan takut dengan panasnya sinar matahari. Ketika saya di penjara karena memperjuangkan kebenaran dan cita-cita, sinar matahari menjadi langka. Bersyukutlah kita bisa mendapat sinar Sang Surya yang telah memberi energi kehidupan," tuturnya. 

Sementara itu, Wakil Bupati Lebak Amir Hamzah turut memperkuat makna Pancasila melalui kearifan lokal. Dia menyatakan nilai-nilai tersebut telah lama dipraktikkan oleh masyarakat Baduy.

“Tidak tertulis di kertas, tetapi dijalankan dalam laku setiap hari. Jujur pada alam, jujur pada janji, jujur pada sesama. Itulah hakikat kejujuran. Baduy adalah Pancasila yang hidup,” kata Amir.

Editor: Rizky Agustian

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut