KOLOM

Hati-Hati Klaster Baru Covid-19 di Sekolah

Suhendra Atmaja ยท Selasa, 26 Mei 2020 - 04:00 WIB
Hati-Hati Klaster Baru Covid-19 di Sekolah

Dosen STIKOM InterStudi Jakarta Suhendra Atmaja. (Foto: dok.pri).

Suhendra Atmaja
Dosen STIKOM InterStudi Jakarta.

RENCANA pemerintah untuk mengembalikan kehidupan normal secara bertahap sejak Mei-Juli 2020 bagi pekerja, pusat perbelanjaan, tempat ibadah, sekolah hingga operasional seluruh sektor, berdasarkan kajian dan edaran kementerian BUMN pada 15 Mei 2020 masih menuai kontroversi.

Meski dalam kajian ala menteri BUMN perubahan perilaku masyarakat ini harus sesuai penerapan protokol kesehatan terkait Covid-19, namun kekhawatiran berbagai pihak terutama sekolah dan lembaga pendidikan sangat beralasan.

Pada kajian tersebut, fase 3 yaitu tanggal 8 Juni 2020, sekolah akan dibuka dengan aturan jumlah siswa dan jam masuk harus sesuai kapasitas ruang.

Menurut penulis, langkah yang dilakukan Menteri BUMN Erick Tohir dan jajarannya sebenarnya langkah positif dan patut diapresiasi. Namun, patut juga di pertimbangan kekhawatiran orang tua, jika anaknya masuk sekolah karena anak-anak sangat rentan terjangkit penyebaran virus korona.

Alih-alih ingin kegiatan belajar berlangsung normal tapi malah menjadi backfire penyebaran virus corona karena bisa saja sekolah menjadi klaster baru penyebaran virus.

Itulah pentingnya antisipasi yang matang dan pertimbangan yang benar-benar akurat jika ingin mengaktifkan proses belajar mengajar secara bertahap.

Penulis menilai, belum lah saatnya mengaktifkan kembali proses belajar mengajar di sekolah ataupun kampus karena penyebaran virus corona hingga kini belum turun, bahkan cenderung naik.

Dengan tidak menakut-nakuti, data Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 menunjukkan penambahan pasien positif corona sejak 25 April -25 Mei 2020 selalu berada di angka 200. Bahkan pada 21 Mei, kasus terkonfirmasi positif mencapai 973 orang dalam sehari. Angka yang fantastik.

Indikator penambahan pasien positif corona ini harusnya menjadi pertimbangan penuh karena bisa saja pasien positif tersebut memiliki anak yang juga bersekolah, sehingga pengawasan penyebaran Covid-19 bisa lengah.

Menteri BUMN, menteri pendidikan dan kebudayaan, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 dan para tenaga pendidik, baik guru atau dosen, harus duduk bersama mencari solusi benar dan terukur agar anak-anak didik ataupun mahasiswa tidak menjadi klaster baru Covid-19.

Penulis berharap ketegasan pemerintah untuk tidak memberlakukan proses belajar mengajar meski dengan standar protokol kesehatan Covid-19 atau dengan kata lain "tidak perlu dijalankan". Dengan tujuan tentu untuk menyelamatkan anak-anak didik kita.

Sampai kapan? Sampai negara ini memiliki indikator bagus adanya penurunan pasien positif Covid-19, tidak pada 8 Juni 2020.

Jangan sampai kekhawatiran klaster baru covid-19 di sekolah, terjadi di Indonesia, seperti halnya juga terjadi di Korea Selatan.

Wallahu a’lam bish-shawabi.

Editor : Zen Teguh