Hebat, Prajurit Kopassus Ini Tetap Berpuasa di Tengah Medan Perang

Okezone, Riezky Maulana ยท Sabtu, 17 April 2021 - 02:30:00 WIB
Hebat, Prajurit Kopassus Ini Tetap Berpuasa di Tengah Medan Perang
Sersan Mayor Durman (dalam lingkaran) merupakan salah satu anggota pasukan Luhut Binsar Pandjaitan (duduk kanan) semasa operasi tempur di Timor Portugis atau Timor Leste pada 1975. (Foto: FB/Luhut Binsar Pandjaitan).

JAKARTA, iNews.id – Namanya Durman. Prajurit Kopassus ini berpangkat sersan mayor ketika terlibat dalam operasi tempur di Timor Portugis (kini Timor Leste) 1975 – 1976.

Serma Durman tak lain Caraka (kurir) perwira Kopassus Luhut Binsar Pandjaitan di Kompi A Denpur-1/Parako. Apa yang hebat dari anggota Korps Baret Merah itu?

Ketaatan Serma Durman menjalankan puasa patut diacungi jempol. Di tengah sengitnya pertempuran pun dia tetap tak meninggalkan ibadah tersebut. Kisah ini dibagikan Luhut, kini Menteri Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, di akun Facebook pribadinya beberapa waktu lalu. 

Kopassus bekerja sama dengan dinas Damkar Jaktim menyemprotkan cairan disinfektan di Kesatrian Ahmad Yani Cijantung untuk mencegah virus corona, Rabu (25/3/2020). (Foto: Penerangan Kopassus).

Bicara tentang puasa, Luhut teringat Durman. Sepanjang berlangsungnya operasi, sebagai seorang muslim Durman tetap menjalankan ibadah puasa. 

“Berpuluh kilogram beratnya ransel di punggung, tidak pernah membatalkan niatnya untuk terus berpuasa,” kata Luhut, dikutip Sabtu (17/4/2021).

Lulusan terbaik Akademi Militer 1970 ini menceritakan, kala itu perlengkapan yang dibawa setiap prajurit cukup berat. Perlengkapan itu antara lain senapan otomatis AK-47, 750 butir peluru kaliber 7,62 mm, 3 magasin lengkung, 2 granat, bekal makan untuk beberapa hari, baju loreng, kaos, sepatu lapangan, dan topi rimba. 

Belum lagi setiap regu masih harus membawa senapan mesin RPD, peluncur roket RPG-2 buatan Yugoslavia, 60 peluru roket 90 mm, penyembur api lengkap dengan 5 mortir dan 18 butir peluru.

“Operasi yang kami jalankan adalah operasi yang cukup berat dan banyak merenggut korban. Kami di Kompi A mengawali operasi ini pada tanggal 7 Desember 1975 dengan kekuatan 110 orang prajurit. Tapi pada Maret 1976, jumlahnya bersisa menjadi 80 orang saja,” tutur Luhut.

Pendiri dan komandan pertama Detasemen-81 Antiteror Kopassus ini mengenang, selama lima bulan operasi, Kompi A melakukan pertempuran setiap hari atau dikenal juga dengan istilah fierce battle. Mereka bertempur menghadapi pasukan Fretilin yang mempunyai motivasi tempur tinggi, kemampuan serta disiplin menembak prima, dan menguasai medan dengan sempurna.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan. (Foto: Ist)
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan. (Foto: Kemenko Marinves)

Di tengah operasi yang melelahkan tersebut selalu ada waktu untuk istirahat makan. Pasukan Kopassus selalu menyantap bekal makanan kaleng T-1. 

Setiap siang, kata Luhut, Durman dengan setia membukakan kaleng makanan dan menyodorkan kepadanya. Kendati demikian, ada kalanya mereka memasak makanan kalau merasa bosan dengan menu ransum tempur tersebut.

Hebatnya, Durman tetap berpuasa dan tidak pernah batal. Penasaran, Luhut pun menanyakan alasan Durman terus berpuasa di tengah kondisi tersebut. 

Apa jawabnya?

Editor : Zen Teguh

Halaman : 1 2