KOLOM

Hijrah Bukan seperti Belah Bambu

Robikin Emhas ยท Minggu, 01 September 2019 - 15:32 WIB
Hijrah Bukan seperti Belah Bambu

Ketua PBNU Robikin Emhas. (Foto: Istimewa)

Robikin Emhas
Ketua PBNU

TANGGAL 1 Muharam sebagai patokan awal penanggalan Islam, merujuk pada peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah pada 622 Masehi. Peristiwa hijrah menjadi patokan sebab peristiwa ini menjadi tonggak sejarah penting perkembangan peradaban Islam hingga menyebar ke seluruh muka bumi.

Namun setelah terjadi peristiwa fathu Makkah pada 630 M, semangat yang melatari hijrah praktis berakhir. Kota Makkah yang sebelumnya ditinggalkan karena dianggap tidak ramah bagi dakwah Islam, berubah karena kemuliaan akhlak Nabi Muhammad. Penduduk quraisy yang lekat dengan kesombongan masa jahiliyah tidak dipersekusi, tapi justru dilindungi. Inilah spirit baru ‘pasca’ hijrah.

Hijrah lalu diartikan sebagai perjuangan meninggalkan hal-hal buruk ke arah yang lebih baik. Hijrah dalam konteks ini adalah sebuah proses menjalani kehidupan. Sebuah perjalanan kehambaan yang senantiasa membutuhkan panduan, keteguhan, dan istikamah. Hijrah tidak diredusir maknanya menjadi idiom simbolik dengan berhijab, misalnya.

Menyambut dan merayakan Tahun Baru Islam 1441 Hijriyah yang bertepatan 1 September 2019 ini, mari kita jadikan momentun untuk memperbaiki kualitas kehambaan kita di hadapan Allah SWT. Sudahkah kita menanamkan akidah dengan benar, melaksanakan ibadah dengan baik dan menunjukkan perangai yang beradab?

Kedua, kita jadikan mementum memperbaiki kualitas kemanusiaan kita. Sudahkah kita mengamalkan konsep persaudaraan sesama manusia tanpa memandang suku, agama dan jenis identitas lain sebagaimana diajarkan Kanjeng Nabi? Sudahkah kita peduli pada tetangga, sanak keluarga, dan saudara-saudara kita sebangsa, se-Tanah Air dan sesama warga dunia?

Untuk saudara-saudara seiman, kami ingin saling mengingatkan. Menjadi hamba yang baik adalah proses kehambaan yang terus menerus, berkelanjutan dan tiada berujung. Menjadi baik itu satu hal. Tapi istikamah dalam kebaikan itu juga satu hal tersendiri, yang tidak mudah. Namun harus terus diikhtiarkan.

Menjadi hamba-hamba pilihan, atau yang dalam Alquran diidealkan dengan sebutan ulul albab, bukanlah proses sederhana. Dia bukan persoalan dua kutub yang bisa ditunaikan cukup dengan ‘hijrah’ dari satu kutub ke kutub lainnya.

Harus istikamah dalam jenis kebaikan satu dan meraih jenis kebaikan lain tanpa meninggalkan kebaikan sebelumnya. Bukan seperti membelah bambu, sebagian diangkat sebagian lainnya diinjak, yang satu dijunjung tinggi dan sisanya direndahkan. Atau, pergi ke suatu tempat dengan meninggalkan tempat sebelumnya. Bukan, bukan seperti itu.

Menjadi hamba pilihan adalah sebuah perjalanan. Dia membutuhkan tahapan-tahapan, dilakukan dengan niat yang bersih dan panduan ilmu.

Mari kita sambut 1 Muharam 1441 Hijriyah dengan semangat baru. Mari perkuat akidah kita tanpa merendahkan pemeluk agama lain. Kita tingkatkan kualitas ibadah kita dengan tetap menghormati mereka yang berbeda jenis peribadatannya.


Editor : Zen Teguh

Halaman : 1 2 Tampilkan Semua