Ilmuwan Jenius Penemu Teori Keretakan Pesawat Itu Berpulang

Ahmad Islamy Jamil ยท Rabu, 11 September 2019 - 20:41 WIB
Ilmuwan Jenius Penemu Teori Keretakan Pesawat Itu Berpulang

Presiden ke-3 RI Bacharuddin Jusuf Habibie. (Foto: Habibie Center).

JAKARTA, iNews.id - Innaa lillaahi wa innaa iliahi raajiuun. Indonesia kembali kehilangan putra terbaik bangsa. Bacharuddin Jusuf Habibie berpulang. Presiden ketiga RI mengembuskan napas terakhir pada usia 83 tahun di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, pukul 18.05 WIB.

Habibie lahir di Parepare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936, dari dari pasangan Raden Ayu Toeti Saptomarini dan Alwi Abdul Djalil Habibie yang memiliki latar belakang suku berbeda. Toeti berasal dari Jawa, sedangkan Alwi adalah seorang pria dari etnis Gorontalo dan punya darah Bugis.

Habibie yang oleh keluarganya lebih akrab disapa Rudy itu adalah anak keempat dari delapan bersaudara. Dia memiliki latar belakang keluarga yang agamais. Dalam buku biografi berjudul "Rudy, Kisah Masa Muda Sang Visioner" disebutkan, sang ayah terbiasa membacakan Alquran kepada Habibie kecil. Tak heran, di saat usianya masih tiga tahun, Habibie sudah lancar melantunkan ayat-ayat suci Allah itu.

Kecerdasan Rudy memang sudah terlihat sejak balita. Namun sayang, saat usianya menginjak 14 tahun, Rudy harus merelakan kepergian papi (panggilannya kepada sang ayah) yang amat dicintainya. Ayahnya menghadap ke hadirat Allah SWT.

Menristek Habibie bersama Menteri Perdagangan dan Industri Finlandia Esko Ollila, 1983 (Foto: Antara).

Sejak itu, jadilah sang mami, Toeti, menjalani peran ganda yaitu sebagai ibu sekaligus ayah bagi delapan anaknya. Toeti harus menjadi tulang punggung bagi Habibie bersaudara.

Pada 1954, Rudy memulai studinya di Jurusan Teknik Mesin di Universitas Indonesia Bandung--yang kini menjadi Institut Teknologi Bandung (ITB). Masa pendidikannya di kampus biru itu hanya berlangsung setahun.

Rudy lantas memutuskan untuk berkuliah di Jerman, yakni di Rhein Westfalen Aachen Technische Hochschule (RWTH). Di sana, dia memilih Jurusan Teknik Penerbangan.

Semasa kuliah di Jerman, Habibie menemukan rumus yang dapat digunakan untuk memprediksi keretakan pada pesawat dengan tingkat akurasi tinggi. Teori keretakan pesawat hasil temuannya itu kemudian dikenal dengan "Faktor Habibie".

Pada 1960, Habibie meraih gelar Diploma Teknik dengan predikat cumlaude. Lima tahun berselang, dia mengantongi gelar Doktor Teknik dengan predikat summa cumlaude. Secara keseluruhan, ada 10 tahun ilmuwan jenius ini menghabiskan masa pendidikannya di Jerman.


Saat berkuliah di negeri panser itu pula, dia menikahi gadis pujaan hatinya, Hasri Ainun Besari. Momen sakral itu berlangsung pada 12 Mei 1962.

Setelah studinya rampung di negeri orang, Habibie tak langsung pulang ke Tanah Air. Dia memutuskan untuk menetap di Jerman. Bahkan, ayah dari Ilham dan Thareq Kemal Habibie itu pernah bekerja cukup lama di Messerschmitt-Bölkow-Blohm, sebuah perusahaan kedirgantaraan yang masyhur di Jerman.

Habibie baru pulang ke Indonesia pada 1973. Kepulangannya kala itu atas permintaan Presiden Soeharto. Awalnya, Habibie ditugaskan Pak Harto mengelola Pertamina. Tiga tahun berikutnya, Habibie dipercaya menjadi pimpinan pertama PT Industri Pesawat Terbang Negeri (IPTN)--yang kini berganti nama menjadi PT Dirgantara Indonesia.

Selanjutnya, sejak 1978, Habibie menjabat Menteri Negara Riset dan Teknologi. Jabatan itu dipegangnya selama dua dasawarsa. Pada 11 Maret 1998, Habibie resmi menjadi Wakil Presiden RI.

Pada saat krisis 1998, Habibie akhirnya menjabat Presiden RI, menggantikan Soeharto. Di bawah kepemimpinannya, Indonesia berhasil selamat dari keterpurukan. Berbagai terobosannya mampu mengubah wajah Indonesia menjadi jauh lebih demokratis. Pelemahan rupiah mampu dia tekan dari angka hampir menyentuh Rp17.000 menjadi Rp6.500 per dolar AS.

Selamat jalan BJ Habibie, putra terbaik bangsa.


Editor : Zen Teguh