Indonesia Ajak Negara di Dunia Perkuat Sistem Peringatan Dini Multi-Bencana

Ilma De Sabrini ยท Jumat, 17 Mei 2019 - 08:25 WIB
Indonesia Ajak Negara di Dunia Perkuat Sistem Peringatan Dini Multi-Bencana

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyerukan kepada negara-negara di dunia untuk memperkuat Sistem Peringatan Dini Multi-Bencana. (Foto: iNews.id/dok).

JENEWA, iNews.id, - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengajak pemerintah di seluruh dunia untuk memperkuat Sistem Peringatan Dini Multi-Bencana. Penguatan itu dapat dilakukan melalui integrasi antarlembaga dengan dukungan inovasi teknologi tanpa mengabaikan kearifan lokal.

Untuk menguatkan dan menjaga efektivitas peringatan dini multi-bencana ini perlu adanya peraturan/regulasi yg mengatur koordinasi, harmonisasi dan sinergi peran, serta data integrasi antar lembaga ataupun antar para pihak terkait dalam sistem integrasi peringatan dini tersebut.

“Indonesia belajar dari kejadian gempabumi dan tsunami di Palu dan Selat Sunda, kejadian ini menunjukkan bahwa wilayah Indonesia memiliki karakteristik kegempaan baru yang jarang terjadi,” kat Dwikorita melalui keterangan tertulis, Jumat (17/5/2019).

Pernyataan Dwikorita disampaikan saat mendapat kehormatan sebagai pembicara utama dalam forum internasional PBB, Second Multi-Hazard Early Warning Conference (MHEWC-II),di Jenewa Swiss, Rabu (16/5/2019). Dalam forum ini, Dwikorita juga menjelaskan bahwa Indonesia memiliki karakteristik cuaca dan iklim yang unik.

Hal ini menjadi sebuah tantangan khususnya bagi pemerintah mengingat Indonesia berada di dalam lingkaran Cincin Api Pasifik yang terbentuk oleh gerak lempeng tektonik aktif.

“Cincin Api Pasifik adalah zona berbentuk tapal kuda dan menjadi sabuk gempa paling aktif di Dunia. Bukan hanya Indonesia, negara lain, seperti Jepang, Taiwan, dan Selandia Baru pun masuk dalam cincin api pasfik tersebut,” ujar mantan rektor UGM ini.

Ledakan populasi yang semakin meningkat, kata Dwikorita, mengakibatkan tingginya kerentanan terhadap bencana hidrometeorologi, iklim ekstrim, bahkan gempa bumi dan tsunami.

Untuk pengurangan dampak risiko bencana, kearifan lokal dan aspek sosial sangat dibutuhkan dalam menjaga efektivitas dan keberhasilan sistem peringatan multi-bencana, tersebut.

Menurutnya, pada saat ini belum terbukti adanya teknologi yang mampu memberikan peringatan dini dalam waktu kurang dari 3 menit setelah gempa terjadi, sebagaimana dibutuhkan untuk kejadian tsunami di Palu. Waktu datangnya Tsunami Palu kurang lebih 2 menit setelah terjadi gempa, sebelum peringatan dini diberikan pada menit ke 5.

”Dengan berbagai keterbatasan yang masih ada, kearifan lokal dan teknologi sederhana yang lebih mudah dipahami dan dioperasikan oleh masyarakat lokal tetap harus diterapkan atau diintegrasikan dalam sistem peringatan dini berbasis teknologi maju,” ujarnya.

Dwikorita berharap pertemuan sebagai tindak lanjut Sendai Framework ini dapat dijadikan langkah bagi negara-negara internasional untuk melakukan pengurangan dampak risiko bencana alam melalui pengembangan Sistem Peringatan Dini Multi-Bencana.

Konferensi yang berlangsung selama dua hari ini diselenggarakan secara berurutan dengan Global Platform for Disaster Risk Reduction 2019.

Konferensi bertujuan untuk mengkoordinasikan dan mendorong peningkatan kapasitas negara-negara di seluruh dunia dalam mengimplementasikan dan mengembangkan Sistem Peringatan Dini Multi-Bencana dalam pengurangan risiko becana yang lebih baik dan lebih terkoordinasi di negara masing-masing.

Editor : Zen Teguh