Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Menkes Sebut Bukber Tidak Sehat? Ini Faktanya!
Advertisement . Scroll to see content

Ini Penyebab Munculnya Cemaran Senyawa Berbahaya di Obat Sirop yang Timbulkan Gagal Ginjal Akut

Jumat, 21 Oktober 2022 - 19:40:00 WIB
Ini Penyebab Munculnya Cemaran Senyawa Berbahaya di Obat Sirop yang Timbulkan Gagal Ginjal Akut
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menjelaskan penyebab munculnya senyawa berbahaya pada obat sirop yang sebabkan gagal ginjal akut. (Foto: Antara)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menjelaskan penyebab munculnya senyawa berbahaya ethylene glycol (EG), diethylene glycol (DEG), dan ethylene glycol butyl ether (EGBE) pada obat sirop. Ketiga senyawa itu dipastikan menjadi penyebab melonjaknya kasus gagal ginjal akut di Indonesia.

Budi mengatakan ketiga senyawa itu timbul sebagai cemaran akibat buruknya proses produksi bahan aktif pelarut bernama polietilen glikol. Dia menjelaskan polietilen glikol sebenarnya tidak berbahaya.

"Pada obat sirop, biar melarutnya bagus biasanya diberi tambahan pelarut namanya polietilen glikol, sebenarnya tidak apa-apa. Tapi kalau kualitas produksi bahannya buruk menghasilkan cemaran," ujar Budi dalam konferensi pers, Jumat (21/10/2022).

Menkes menjelaskan awalnya Kemkes masih bingung menentukan penyebab melonjaknya kasus gagal ginjal akut yang dimulai Agustus 2022. Namun titik terang ditemukan usai WHO mengumumkan kasus serupa di Gambia pada 5 Oktober 2022.

"Lalu kita cek ke anak-anak yang mengalami, tes toksikologi. Ternyata ada. Kita datangi rumah ada obat-obat yang mengandung senyawa itu ada atau tidak, ternyata ada," tuturnya,

Dia menjelaskan sebenarnya kandungan cemaran masih diperbolehkan dengan ambang batas tertentu.

"Sebenarnya ada tapi harus kecil sekali," ucapnya.

Sebelumnya Menkes Budi Gunadi Sadikin mengumumkan adanya 241 kasus gagal ginjal akut di Indonesia yang tersebar di 22 provinsi hingga kini. Sebanyak 133 di antaranya meninggal dunia.

"Kami identifikasi ada 241 kasus di 22 provinsi dengan 133 kematian," ujar Budi.

Editor: Rizal Bomantama

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut