Jadi Relawan Vaksin Covid-19, Ridwan Kamil Tak Rasakan Efek Samping

Riezky Maulana ยท Sabtu, 10 Oktober 2020 - 14:47 WIB
Jadi Relawan Vaksin Covid-19, Ridwan Kamil Tak Rasakan Efek Samping

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil. (Foto: Antara).

JAKARTA, iNews.id - Uji coba vaksin Covid-19 telah memasuki fase 3 dan melibatkan ribuan relawan. Salah satu relawan yang ikut uji coba fase 3 di Universitas Padjajaran Bandung, yaitu Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil.

Dia menuturkan, uji klinis vaksin yang dilaksanakan di Universitas Padjajaran Bandung melalui 3 tahap fase uji klinis dan disaksikan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Tahap pertama vaksin disuntikkan pada relawan yang jumlahnya di bawah 100 orang. Tahap kedua, disuntikkan pada relawan dengan jumlah 100-1.000 orang dan tahap ketiga untuk relawan di atas 1.000 orang, tepatnya 1.620 relawan," ujar Ridwan Kamil dalam acara yang dilaksanakan oleh Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Reisa Brotoasmoro dan disiarkan melalui Youtube Sekretariat Presiden, Jumat (9/10/2020).

Dalam pengalaman menjadi relawan uji coba itu, kata dia syaratnya harus melalui 5 kali kunjungan. Pertama, tes PCR, rapid test dan sejenisnya untuk pengondisian.

Kunjungan kedua, menerima suntikan vaksin tahap satu, kunjungan ketiga disuntikkan tahap kedua, kunjungan keempat dan kelima diambil darah untuk dicek reaksi dari vaksin yang disuntikkan.

"Apakah setelah disuntik vaksin, di dalam tubuh saya ini antibodi berlimpah atau tidak. Nah, kalau berlimpahnya sampai 90%, berarti badan saya siap melawan virus Covid-19 yang akan menyerang tubuh saya," ucapnya.

Dia menilai upaya yang dilakukan pemerintah tidak mudah karena masih ada kelompok masyarakat yang meragukan keamanan vaksin. Bahkan, saat mengikuti proses relawan vaksin sempat dituding hanya berpura-pura atau menyebarkan hoaks ketika fotonya saat proses pengambilan darah diunggah ke akun media sosial dan beredar luas di media sosial.

"Persepsi publik, orang-orang yang tidak paham menyangka saya bohong. Karena menurut yang tidak paham, jarum suntik itu masih seperti model yang lama, padahal dalam tes vaksin menggunakan jarum suntik modern yang disebut vacutainer," katanya.

Masyarakat yang tidak paham tentang prosesnya, diharapkan jangan berkomentar bersifat rovokasi. Dia menyarankan warga untuk bertanya agar memahami prosesnya. Sejauh ini dia tidak merasakan dampak medis yang ditimbulkan akibat vaksin tersebut.

Editor : Kurnia Illahi