Jejak Historis Nadiem Makarim, dari Keponakan Pengusaha di Orde Baru hingga Cucu Pejuang Kemerdekaan

Felldy Utama, Ilma De Sabrini ยท Selasa, 22 Oktober 2019 - 03:30 WIB
Jejak Historis Nadiem Makarim, dari Keponakan Pengusaha di Orde Baru hingga Cucu Pejuang Kemerdekaan

Nadiem Makarim. (Foto: Antara)

JAKARTA, iNews.id - Mantan CEO Gojek Nadiem Makarim memastikan menerima tawaran menjadi menteri di Pemerintahan Joko Widodo dan Ma'ruf Amin (Jokowi-Ma'ruf). Kepastian itu disampaikan dia usai bertemu dengan Jokowi di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin, 21 Oktober 2019 pagi.

"Semuanya merujuk dari visi misi Pak Presiden. Ini merupakan kehormatan luar biasa bagi saya dan semoga didukung ke depannya, terima kasih," katanya.

Nadiem Makarim bertemu Presiden Joko Widodo selama kurang lebih 40 menit. Dia mengaku berbincang terkait visi dan misi presiden yang ingin mengembangkan SDM, mereformasi birokrasi dan meningkatkan investasi.

Nadiem juga menyatakan tidak sabar bergabung di dalam Kabinet Kerja guna melahirkan inovasi baru bagi negara.

Berikut empat fakta Nadiem Makarim yang dirangkum iNews.id:

1. Anak Nono Anwar Makarim
Nadiem Makarim merupakan putra dari pasangan Nono Anwar Makarim dan Atika Algadri. Nono salah satu praktisi hukum ternama di Indonesia.

Nono yang merupakan penulis itu pernah menjadi anggota Komite Etik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

2. Keponakan Zacky Anwar Makarim
Nadiem Makarim merupakan keponakan Zacky Anwar Makarim. Mantan Kepala Badan Intelijen ABRI (BIA) itu adik Nono Anwar Makarim.

Zacky Anwar Makarim pernah menjadi ketua Satgas Panitia Penentuan Pendapat Timor Timur (P3TT) pada akhir tahun 90-an.

3. Keponakan Maher Algadri
Maher Algadri adalah anggota Dewan Pembina Partai Gerindra Maher Algadri. Dia merupakan salah satu orang dekat Prabowo Subianto.

Maher Algadri merupakan adik dari ibu Nadiem Makarim, Atika Algadri. Maher salah satu pengusaha Kongsi Delapan (Kodel) Group.

Kodel Group merupakan konglomerasi perusahaan yang didirikan Fahmi Idris bersama Aburizal Bakrie, Soegeng Sarjadi, Abdul Latief, dan Pontjo Sutowo. Perusahaan ini sukses pada era Orde Baru, tahun 1980-an.

Editor : Djibril Muhammad