Jokowi Perintahkan Semua Data Di-back Up usai PDNS 2 Diretas
JAKARTA, iNews.id - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menekankan seluruh data harus dicadangkan atau di-back up. Penekanan itu demi mengantisipasi serangan siber seperti peretasan Pusat Data Nasional Sementara (PDNS) 2 beberapa waktu lalu.
Jokowi menilai jika kementerian dan lembaga memiliki back up data, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena sudah siap dari serangan apapun.
"Yang paling penting adalah semua data yang kita miliki itu harus di-back up, sehingga kalau ada apa-apa kita sudah siap," kata Jokowi dalam keterangannya di RSUD Sinjai, Sulawesi Selatan, Kamis (4/7/2024).
Diketahui, kelompok peretas yang menamakan diri Brain Cipher akhirnya melunak dan memberikan kunci enkripsi secara gratis. Bahkan, mereka menegaskan ini dilakukan atas keputusan sendiri dan tak ada tekanan dari pihak mana pun.
PDNS 2 yang berlokasi di Surabaya, Jawa Timur, terserang ransomware Lock Bit 3.0. Serangan ini membuat data terkunci dari dalam sehingga hanya pembobol yang bisa membuka data-data tersebut.
Brain Cipher kemudian memberikan kunci secara gratis setelah sebelumnya dikabarkan meminta tebusan sebesar 8 juta dolar AS atau setara Rp131 miliar.
Berikut pernyataan lengkap Brain Cipher:
1. Kami secara independen membuat keputusan seperti itu, ini tidak memerlukan intervensi dari layanan khusus dan lembaga penegak hukum.
2. Tidak, tidak ada kesalahpahaman di tim kami. Kami adalah tim hebat di mana semua orang mendukung keputusan seperti itu.
3. Ini adalah pertama dan terakhir kalinya seorang korban menerima kunci secara gratis. Untuk lainnya -Selamat datang di obrolan. Kami tidak tawar-menawar.
4. Mengapa kita menyerang pusat data? Seperti yang Anda ketahui, pusat data adalah industri teknologi tinggi yang membutuhkan investasi besar, dan setiap orang yang membuat bisnis ini harus mengetahui hal ini. 99 dari 100 perusahaan semacam itu harus membayar jika mereka menemukan diri mereka dalam situasi tanpa harapan. Dalam kasus ini, serangan itu sangat mudah sehingga kami hanya membutuhkan sedikit waktu untuk membongkar data dan mengenkripsi beberapa ribu terabyte informasi.
5. Kami menyimpulkan bahwa pembicaraan menemui jalan buntu ketika pihak kedua mentransfer akses ke pembicaraan ke pihak ketiga (artinya mereka tidak akan mengatakan apa-apa lagi).
6. Kami berterima kasih kepada masyarakat atas kesabaran mereka.
7. Anda dapat menarik kesimpulan lainnya sendiri, jangan percaya media. Hanya perhatikan mereka "yang memegang teguh kata-katanya."
Hanya saja, data nasional yang tersandera belum bisa terbuka. Hal tersebut disampaikan Semuel Abrijani Pangerapan saat menyampaikan pengunduran diri sebagai Direktur Jenderal aplikasi informatika (Dirjen Aptika) Kominfo pada Kamis (4/7/2024).
Semuel menjelaskan kunci yang diberikan oleh Brain Cipher saat ini masih dalam tahap proses pengujian. Sebab, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), BSSN (Badan Siber dan Sandi Negara), dan Cyber Crime, tak ingin kasus tersebut terulang.
"Sedang kami proses. Itu (kunci) bisa di-download oleh semua orang. Tadi malam, Rabu (3/7/2024), kita sudah coba di-spesimen kita itu bisa terbuka, tapi kita tidak memiliki informasi yang lebih dalam lagi," kata Semuel.
Editor: Rizky Agustian