Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Kabut Asap Karhutla Selimuti Kotim, Penderita ISPA Melonjak 704 Kasus
Advertisement . Scroll to see content

Kemarau Panjang! Kasus ISPA di RI Tembus 15,6 Juta hingga Agustus 2026

Kamis, 20 Agustus 2026 - 11:20:00 WIB
Kemarau Panjang! Kasus ISPA di RI Tembus 15,6 Juta hingga Agustus 2026
Ilustrasi masyarakat menggunakan masker di tengah ancaman ISPA. (Foto: Aldhi Chandra)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id – Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Indonesia masih tinggi sepanjang 2026. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 15,6 juta kasus ISPA hingga Agustus 2026, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pada periode yang sama 2025, jumlah kasus ISPA tercatat sekitar 15,4 juta. Kemenkes menilai kondisi iklim, termasuk kemarau panjang dan perubahan musim yang ekstrem, turut memengaruhi fluktuasi kasus ISPA.

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, mengatakan peningkatan kasus ISPA dapat terjadi sepanjang tahun, terutama ketika masyarakat menghadapi masa peralihan musim.

"Kasus ISPA setiap tahunnya semakin meningkat dan terjadi sepanjang tahun, dimulai dari peralihan musim kemarau ke musim hujan atau sebaliknya," ujar Aji dalam keterangan tertulis, Kamis (20/8/2026).

Menurut Aji, kemarau panjang dapat berdampak terhadap kualitas udara. Kondisi tersebut salah satunya berkaitan dengan meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Karhutla menghasilkan polutan, termasuk partikulat halus PM2,5, yang dapat memperburuk kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan pada saluran pernapasan.

Pulau Jawa Catat Kasus ISPA Tertinggi

Kemenkes mencatat provinsi-provinsi di Pulau Jawa menjadi wilayah dengan laporan kasus ISPA tertinggi. Tingginya kasus tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa seluruh kasus disebabkan oleh kemarau panjang atau paparan asap karhutla.

"Daerah yang paling banyak melaporkan kasus ISPA adalah provinsi di Pulau Jawa. Namun, perlu hati-hati karena tidak semua kasus ISPA bisa langsung dikaitkan dengan kemarau panjang. Jadi kami terus pantau tren dan distribusinya," kata Aji.

Selain jumlah kasus, Kemenkes mencatat 676.404 kunjungan pasien ISPA ke rumah sakit selama Januari hingga Juli 2026. Meski demikian, tren rata-rata kunjungan bulanan dalam tiga minggu terakhir tercatat mengalami penurunan tipis sebesar 0,6 persen.

Kemenkes Siagakan Fasilitas Kesehatan

Kemenkes juga mengantisipasi dampak cuaca panas dan udara kering terhadap kesehatan masyarakat. Selain ISPA, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko heat stroke dan memperburuk penyakit kronis.

Fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk rumah sakit vertikal Kemenkes di sejumlah daerah, disiagakan untuk menghadapi kemungkinan peningkatan kebutuhan layanan kesehatan.

"Masyarakat, terutama anak-anak, lansia, dan mereka yang punya penyakit penyerta, harus lebih berhati-hati. Kami ingin pelayanan kesehatan tetap siap sebelum terjadi peningkatan kasus, bukan baru bertindak setelah rumah sakit penuh," ujar Aji.

Kemenkes mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan ketika kualitas udara memburuk. Penggunaan masker dianjurkan ketika beraktivitas di luar ruangan dalam kondisi polusi udara tinggi.

Masyarakat juga diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan, menutup ventilasi ketika kualitas udara memburuk, serta menggunakan air purifier di dalam ruangan jika tersedia.

Selain itu, menjaga Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), mencukupi kebutuhan air, serta menghindari asap rokok dan polusi kendaraan menjadi langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi paparan yang berisiko mengganggu saluran pernapasan.

Editor: Muhammad Sukardi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut