Kemenag Siapkan Edukasi dan Mitigasi Bencana Masuk Kurikulum Madrasah-Pesantren, Ini Tujuannya
JAKARTA, iNews.id - Kementerian Agama (Kemenag) berencana memasukkan materi edukasi dan mitigasi bencana ke dalam kurikulum madrasah dan pondok pesantren di seluruh Indonesia. Langkah tersebut bertujuan membekali para santri dengan pengetahuan dan keterampilan menghadapi bencana sejak dini.
Wakil Menteri Agama (Wamenag) Muhammad Syafi’i menyampaikan rencana tersebut saat meninjau pameran karya riset kebencanaan santri di Dayah/Pesantren Ruhul Islam Anak Bangsa (RIAB), Aceh Besar.
Dia menilai edukasi kebencanaan penting bagi lembaga pendidikan keagamaan mengingat kondisi geografis Indonesia yang rawan bencana. Karena itu, santri perlu dibekali pemahaman mengenai lingkungan, kesiapsiagaan, hingga keterampilan menyelamatkan diri dan orang lain.
“Ini bukan lagi sekadar wacana, tapi langkah penting yang harus segera kita ambil. Perlu kita tanamkan literasi kebencanaan sejak dini, agar santri bukan hanya paham teori, tetapi memiliki naluri kesiapsiagaan dan keterampilan dalam menyelamatkan diri maupun sesama,” ucap Syafi'i dalam keterangannya, Sabtu (7/11/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Wamenag juga menyaksikan presentasi karya ilmiah santri RIAB berjudul Inong Tangguh. Karya itu mengangkat kearifan lokal smong masyarakat Pulau Simeulue dalam mengenali potensi tsunami, kemudian memadukannya dengan edukasi untuk anak-anak dan pemberdayaan perempuan.
Menurut Syafi’i, inovasi berbasis kearifan lokal tersebut dapat dikembangkan menjadi modul pembelajaran kebencanaan di pesantren dan madrasah.
“Kita rancang integrasi kurikulum ini agar madrasah dan pesantren punya kesiapan yang baik dalam menanggulangi bencana. Ini sejalan dengan agenda kita di kementerian untuk terus memperkuat edukasi keselamatan bagi anak-anak didik,” kata dia.
Rencana tersebut juga berkaitan dengan pembentukan tim koordinasi penanganan darurat Kemenag Peduli. Tim ini tidak hanya diarahkan untuk merespons bencana, tetapi juga mendukung upaya pencegahan dan edukasi di lingkungan satuan pendidikan keagamaan.
“Langkah integrasi kurikulum ini terhubung langsung dengan tim Kemenag Peduli yang baru kita bentuk. Fokus kita bukan hanya tanggap darurat pascabencana, melainkan membangun kesiapan sejak dini di lingkungan pendidikan,” tuturnya.
Lebih lanjut, Wamenag mendorong madrasah dan pesantren tidak lagi memisahkan ilmu umum dengan ilmu agama. Menurutnya, ilmu pengetahuan seperti geologi kebencanaan, matematika, fisika, kimia, dan biologi juga menjadi bagian penting dalam pendidikan keagamaan.
“Jangan lagi ada sekat 'ini ilmu umum, ini ilmu agama'. Kimia, biologi, matematika, maupun sains kebencanaan hakikatnya adalah bagian dari pendidikan agama. Santri yang sedang mendalami ilmu apa pun sesungguhnya tengah menjalankan proses pendidikan Islam,” ucap Syafi'i.
Dalam kesempatan itu, Syafi’i turut mengapresiasi perkembangan fasilitas dan tata kelola pesantren. Dia menilai lingkungan pendidikan yang semakin baik dapat mendukung santri dalam mengembangkan kemampuan intelektual dan spiritual.
Dia juga menyampaikan apresiasi kepada pengasuh pesantren serta para tenaga pendidik yang telah mengelola lembaga pendidikan tersebut. Syafi’i menyebut sejumlah program pemerintah, seperti Makanan Bergizi Gratis (MBG), cek kesehatan gratis, dan bantuan operasional sekolah, sebagai bentuk dukungan terhadap pendidikan dan kesejahteraan peserta didik.
Wamenag kemudian berpesan agar para santri memiliki cita-cita tinggi dan berani mengambil peran dalam kepemimpinan bangsa.
“Gantungkan mimpi kalian sebesar-besarnya. Jangan puas hanya bercita-cita biasa. Santri harus berani bermimpi menjadi menteri, wakil presiden, bahkan presiden Republik Indonesia. Cita-cita besar itulah tautan pengikat semangat juang agar kita tidak mudah menyerah,” katanya.
Editor: Aditya Pratama