Kemenkes Jadi Klaster Covid-19 Terbanyak di DKI Jakarta, Ini Kata Komisi IX DPR
JAKARTA, iNews.id - Komisi IX DPR prihatin dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang kini menjadi klaster terbanyak penyebaran pandemi virus corona (Covid-19) di DKI Jakarta. Setidaknya ada 139 kasus Covid-19 dari klaster Kemenkes.
Wakil Ketua Komisi IX DPR Melkiades Laka Lena menilai kondisi tersebut terjadi karena Kemenkes sering melakukan testing dan tracing. Apalagi, pejabat Kemenkes memahami pentingnya testing dan tracing dalam memutus mata rantai Covid-19.
"Jadi memang Kemenkes itu, memang dari awal mereka yang bersentuhan dengan penderita dan Covid kan. Tentu mereka lebih aware dengan urusan testing dan juga tracing karena mereka sering berurusan dengan ini. Sejauh yang kami dapat informasi karena mereka ketat sekali dengan testing dan tracing maka angkanya tinggi," katanya di Jakarta, Jumat (18/9/2020) malam.
Namun demikian, Melki meyakini penyebaran Covid-19 bukan di dalam gedung Kemenkes melainkan saat terjun langsung ke lapangan. Pejabat dan pegawai di Kemenkes juga sering melakukan kerja di lapangan, mengecek langsung ke rumah sakit (RS) dan hal lain yang bersinggungan langsung dengan Covid-19.
"Mereka (Kemenkes) bergerak terus di lapangan, mereka bekerja di lapangan. Jadi, bukan di dalam kantornya tapi saat beraktivitas di lapangan," ujar politikus Partai Golkar ini.
Melki pun meminta kepada seluruh instansi pemerintah atau swasta untuk menjalankan protokol kesehatan dengan disiplin dan ketat. Para pekerja juga harus dibuatkan sistem shifting atau bergiliran agar memastikan hanya 20-25 persen pegawai saja yang berada di kantor.
Dia menyebutkan, pada minggu pertama 20-25 persen pegawai masuk dan sisanya di rumah. Pada minggu selanjutnya 20-25 persen kelompok pekerja lainnya dan sisanya kerja dari rumah.
"Jadi, protokol yang ketat dijalankan, bekerja dengan sistem shifting dan dilakukan pengetesan secara rutin. Bagi yang masuk kantor ditesting atau yang selesai masuk kantor mereka ditesting, di rumah bisa ketahuan statusnya seperti apa," tuturnya.
Editor: Djibril Muhammad