Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Ketidakpastian Regulasi Ojol Dijawab, Pimpinan DPR Perkuat Penyerapan Aspirasi
Advertisement . Scroll to see content

Kemenkes Jadi Klaster Covid-19 Terbanyak di DKI Jakarta, Ini Kata Komisi IX DPR

Jumat, 18 September 2020 - 23:27:00 WIB
Kemenkes Jadi Klaster Covid-19 Terbanyak di DKI Jakarta, Ini Kata Komisi IX DPR
Wakil Ketua Komisi IX DPR Melkiades Laka Lena. (Foto: Antara)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Komisi IX DPR prihatin dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang kini menjadi klaster terbanyak penyebaran pandemi virus corona (Covid-19) di DKI Jakarta. Setidaknya ada 139 kasus Covid-19 dari klaster Kemenkes.

Wakil Ketua Komisi IX DPR Melkiades Laka Lena menilai kondisi tersebut terjadi karena Kemenkes sering melakukan testing dan tracing. Apalagi, pejabat Kemenkes memahami pentingnya testing dan tracing dalam memutus mata rantai Covid-19.

"Jadi memang Kemenkes itu, memang dari awal mereka yang bersentuhan dengan penderita dan Covid kan. Tentu mereka lebih aware dengan urusan testing dan juga tracing karena mereka sering berurusan dengan ini. Sejauh yang kami dapat informasi karena mereka ketat sekali dengan testing dan tracing maka angkanya tinggi," katanya di Jakarta, Jumat (18/9/2020) malam.

Namun demikian, Melki meyakini penyebaran Covid-19 bukan di dalam gedung Kemenkes melainkan saat terjun langsung ke lapangan. Pejabat dan pegawai di Kemenkes juga sering melakukan kerja di lapangan, mengecek langsung ke rumah sakit (RS) dan hal lain yang bersinggungan langsung dengan Covid-19.

"Mereka (Kemenkes) bergerak terus di lapangan, mereka bekerja di lapangan. Jadi, bukan di dalam kantornya tapi saat beraktivitas di lapangan," ujar politikus Partai Golkar ini.

Melki pun meminta kepada seluruh instansi pemerintah atau swasta untuk menjalankan protokol kesehatan dengan disiplin dan ketat. Para pekerja juga harus dibuatkan sistem shifting atau bergiliran agar memastikan hanya 20-25 persen pegawai saja yang berada di kantor.

Dia menyebutkan, pada minggu pertama 20-25 persen pegawai masuk dan sisanya di rumah. Pada minggu selanjutnya 20-25 persen kelompok pekerja lainnya dan sisanya kerja dari rumah.

"Jadi, protokol yang ketat dijalankan, bekerja dengan sistem shifting dan dilakukan pengetesan secara rutin. Bagi yang masuk kantor ditesting atau yang selesai masuk kantor mereka ditesting, di rumah bisa ketahuan statusnya seperti apa," tuturnya.

Editor: Djibril Muhammad

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut