Ketua Umum PBNU Bersyukur Ety Lolos dari Hukuman Mati di Saudi

Abdul Rochim ยท Senin, 06 Juli 2020 - 21:39 WIB
Ketua Umum PBNU Bersyukur Ety Lolos dari Hukuman Mati di Saudi

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. (Foto: Sindonews/Abdul Rochim).

JAKARTA, iNews.id – Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengucapkan syukur Pekerja Migran Indonesia, Ety binti Toyyib Anwar, lolos dari hukuman mati di Arab Saudi. Perempuan asal Majalengka, Jawa Barat itu telah menyelesaikan hukuman 18 tahun penjara dan kini tiba di Indonesia.

”Saya bersyukur, tahmid kepada Allah SWT yang setinggi-tingginya. Alhamdulillahi robbil ‘alamin, hamdan katsiron thoyyiban mubarokan ‘ala kulli hal. Ety asal Majalengka, yang kebetulan dekat dengan kampung saya, lolos dari hukuman qishash setelah kita upayakan tebusan Rp15,5 miliar,” ucap Siad di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Senin (6/7/2020).

Pengasuh Ponpes Al-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan, tersebut, mengatakan, Ety telah mendekam di penjara selama 18 tahun. NU Care-LAZISNU menggalang dana selama tujuh bulan untuk membebaskan Ety.

Menurut Said, NU berhasil mengumpulkan dana Rp12,4 miliar atau sekitar 80 persen dari kewajiban diyat sejumlah 4 juta riyal Saudi atau Rp15,5 miliar. Adapun dana terkumpul dari para dermawan santri, pengusaha, birokrat, politisi, akademisi dan komunitas filantropi.

“Dari berbagai pihak yang percaya kepada lembaga NU Care-LAZISNU, amanah bisa tersampaikan kepada yang berhak dengan sempurna, dengan tidak ada kurang sedikitpun, bahkan kita berusaha menambah lagi,” tutur kiai alumnus Universitas Ummul Qura, Mekkah, Saudi tersebut. Dia pun menyampaikan terima kasih atas dukung seluruh pihak untuk membantu pembebasan tenaga kerja asal Indonesia.

Ety divonis hukuman mati qishash berdasarkan Putusan Pengadilan Umum Thaif No. 75/17/8 tanggal 22/04/1424H (23/06/2003M) yang telah disahkan oleh Mahkamah Banding dengan nomor 307/Kho/2/1 tanggal 17/07/1428 dan telah disetujui oleh Mahkamah Agung dengan No: 1938/4 tanggal 2/12/1429 H karena membunuh majikannya warga negara Arab Saudi, Faisal bin Said Abdullah Al Ghamdi, dengan cara diracun.

Tiga bulan setelah Faisal meninggal dunia, seorang WNI bernama Ema atau Aminah (pekerja rumah tangga di rumah sang majikan) memberikan keterangan bahwa Etty Toyib telah membunuh majikan dengan cara meracun.

Pembicaraan tersebut direkam oleh seorang keluarga majikan. Rekaman tersebut diperdengarkan oleh penyidik saat menginterogasi Ety pada 16 Januari 2002 silam, yang mengakibatkan adanya pengakuan Etty bahwa yang bersangkutan telah membunuh majikan.

Dalam proses pembebasannya, Pemerintah Indonesia dengan dukungan berbagai pihak akhirnya membebaskan Etty dari hukuman mati dengan patungan membayar uang denda Rp15,2 miliar. Kasus Etty terjadi sejak 2001.

Editor : Zen Teguh