Letjen TNI Iwan Setiawan, dari Everest ke Kostrad
Karena itu, bagi saya, misi Everest bukan sekadar satu baris dalam biodata Iwan Setiawan. Di dalamnya ada kenangan pribadi sekaligus awal untuk memahami cara ia memandang tugas, alam, dan dirinya sendiri.
Pam Pam Pam
Ada hal lain yang khas dari Iwan: suaranya. Di kalangan prajurit, ia dikenal piawai menghidupkan suasana dan membakar semangat pasukan melalui yel-yel. Bahkan, setiap kali saya meneleponnya, sering kali bukan kata “halo” yang terdengar lebih dahulu.
Yang muncul justru suara lantang: “Komando Hantu Rimba, Prajurit Sapta Marga… pam… pam… pam… Merah Putih…!”
Itulah Iwan. Ramai, spontan, kocak, dengan aksen Sunda yang kental. Namun, ketika masuk urusan tugas, ia berubah menjadi prajurit serius.
Dalam falsafah Sunda dikenal ajaran silih asah, silih asih, silih asuh: saling menajamkan kemampuan, memelihara rasa kemanusiaan, dan saling membimbing. Dalam kepemimpinan militer, maknanya relevan. Prajurit tidak hanya dituntut kuat, tetapi juga perlu terus diasah kemampuannya, dipelihara soliditasnya, dan dibimbing agar tumbuh menjadi manusia sekaligus prajurit yang lebih baik.